Diposkan pada Prosa, Tulisan

Menyoal Bunuh Diri dan Kesehatan Mental

Dari kemarin, dan mungkin untuk beberapa hari kedepan, beranda sosial media milikku berduka setelah Jonghyun Shinee diberitakan meninggal dunia.

Kaget? Tentu aja, karena Jonghyun masih muda. Umur dia masih 27 tahun. Aku mungkin bukan fans sehingga gak ngikutin aktivitas dia. Tapi Jonghyun ikut bagian dalam kenangan masa putih abu dulu. Debut tahun 2008 bareng Shinee, Jonghyun jadi ikut seangkatan sama grup yang bikin aku suka sama musik korea: 2PM dan 2AM. Aku pernah juga jadiin karakter di fanfiksi, aku pernah suka banget sama lagunya yang berjudul Obsession, aku pernah nonton reality show dia Hello Baby Shinee bareng temen pas kita nginep. Lalu dia makin mantap kemampuan musikalitasnya, dia mampu mencipta lagu untuk penyanyi lain dan aku suka banget sama lagu Breathe-nya dia yang dinyanyiin Lee Hi.

Kenanganku sebatas itu. Tapi aku tetep ngerasa kehilangan. Apalagi setelah tahu penyebab kematian dia.

Apa? Bunuh diri.

Lagi-lagi ketipu. Dengan kesuksesan dia, dengan mampunya dia menghibur di atas panggung, dengan senyumnya dia, dengan banyaknya fans dia. Karena berkali-kali aku muji Shinee, sebagai angkatan tahun 2008 yang masih aktif dan dipromosikan dengan baik –jika dibandingkan dengan 2AM atau 2PM yang vakum-. Tapi ternyata dia kosong dan kesepian.

Surat terakhir dia sebelum bunuh diri itu sedih banget, dia bertarung sama sesuatu yang gak kelihatan di dalam dirinya, dia capek, dia lelah, dan akhirnya menyerah.

Ok, jika kesedihannya cuma sampai disini aja, aku gak bakal kegelitik buat nulis sesuatu. Tapi ternyata ada hal lain yang bikin aku miris dan akhirnya memutuskan untuk menuang unek-unek: komentar netizen Indonesia menanggapi masalah ini.

Kata-kata mereka jahat banget dan gak pantes diucapkan untuk sebuah berita duka. Dan itu menjadi cerminan kalau kita –masyarakat Indonesia- masih kurang bisa memahami mengenai kesehatan mental.

Baik, aku paham kalau tuntutan dunia hiburan di Korea jauh lebih berat banding disini. Salah sedikit bisa beneran gak muncul lagi di TV, persaingan ketat, sistem training yang berat, membuat tekanan menjadi luar biasa. Dan yes, aku juga tahu kalau mayoritas masyarakatnya gak memiliki agama. Semua seolah jadi resep yang pas untuk akhirnya membuat Korea Selatan termasuk ke dalam negara dengan angka kejadian bunuh diri yang tinggi.

Tapi, tapi… mau kah kita mencoba menilik dari sisi lain? Saya tahu bahwa Islam melarang keras bunuh diri, karena itu seakan tidak menysukuri hidup yang sudah Allah berikan. Beberapa hak dari jenazah yang meninggal karena bunuh diri juga ditiadakan. Belum dengan dalil yang mengatakan tentang apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya bagi mereka yang melakukan bunuh diri.

Saya tahu, dan itu benar-benar menakutkan. Tapi kenapa masih saja ada yang melakukan bunuh diri? Meskipun dia Islam? Meskipun dia sudah paham mengenai hal tersebut? Jangankan di Korea sana, di Ciamis, kota kecil di ujung Jawa Barat juga ada yang bunuh diri. Bukan kotanya, tapi di desa nan terpencil yang susah aksesnya. Gak tanggung-tanggung, seorang Kepala Sekolah, muslim dan sudah melaksanakan rukun Islam ke lima alias naik haji.

Lalu kenapa? Bunuh diri seolah menjadi tinggal satu-satunya jalan yang tersisa meskipun sudah diketahui konsekuensinya? Bukan hanya soal agama, sangsi sosial juga tetap akan berlaku sangat kejam bukan?

Orang yang bunuh diri –siapapun itu- adalah korban. Bunuh diri, apapun caranya, pasti menyakiti diri sendiri. Sakit, pasti. Tapi rasa sakit itu seolah tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit jika tetap melanjutkan hidup. Terbayang? Itu artinya alasan dia, beban dia, begitu besar.

Daripada menyalahkan korban-nya, saya lebih senang mempertanyakan significant other atau orang-orang sekitarnya, orang-orang yang korban anggap dekat. Tahukan mereka mengenai permasalahan korban? Langkah apa yang sudah mereka lakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan itu? Apa pandangan mereka mengenai kondisi mental korban?

Begini, penyakit mental sama beratnya dengan penyakit fisik. Malah bisa lebih berat karena orang-orang disekitar tidak menyadari adanya penyakit itu dan tetap menganggap si penderita itu baik-baik saja. Penyakit mental itu banyak, depresi, OCD, Bipolar, shizophrenia, dll. Mereka gak kelihatan, gak sama kayak kanker, asma, panu, eksim, kurap, dll yang bisa kamu lihat bentukannya.

Itulah kenapa saat si penderita penyakit mental mengeluh, apa coba yang orang-orang ucapkan?

Gitu doang sedih, banyak yang masalahnya lebih berat dari kamu biasa aja tuh.

Baperan sih lo.

Dan yang lebih parah, kamu kesurupan kali, tanda-tanda kurang iman tuh.

Lalu gimana mereka mau cerita dan berbagi beban jika tanggapannya kayak gitu? Alhasil ditengah miliyaran manusia di dunia mereka tetep ngerasa sendirian. Setelah dia struggling dengan masalahnya, lalu cerita ditanggapi dengan sepele sama orang-orang, eh, pas akhirnya memilih bunuh diri tetep diketawain juga. Hei, sebenernya yang sakit siapa sih?

Masalah yang sama bisa ditanggapin beda sama tiap orang. Besar enggaknya masalah bukan diukur sama kita orang luar, tapi sama yang ngalamin masalahnya sendiri.

Dari dulu aku sebenernya konsen banget sama masalah mental, penyebabnya, aku tahu gimana sakit-nya. Aku tahu gimana nangis sendirian di kamar mandi karena gak bisa cerita sama siapa-siapa, aku tahu gimana rasanya benci banget sama diri sendiri cuma karena akuntansi. Sepele banget kan? Itulah kenapa aku gak mau cerita sama siapapun, karena ujung-ujungnya ya bakal diremehin.

Aku bisa cerita sekarang dengan mudah karena aku ngerasa masalah itu udah selesai, aku udah bisa ngetawain diri aku sendiri di waktu itu yang seharian di Mesjid pas besok mau UAS akuntansi karena aku gak ngerti-ngerti buat jurnal umum.

Aku tahu rasanya teralienisasi, ngerasa aneh, ngerasa beda, ngerasa bener-bener sendirian pas di perkumpulan yang jelas-jelas lagi banyak orang. Semua orang kayak fade dan slow motion aja (istilah editing, maaf, wkwk). Sampai aku ngerasa kalau aku itu punya bipolar disorder (walaupun ternyata bukan, aku ngaku-ngaku aja, karena ternyata itu ada kaitannya sama tipe kepribadianku yang INFJ. Lain kali aku mau bahas soal INFJ ini).

Tapi anggapan aku punya bipolar itu memberi hikmah buat aku,  waktu kuliah di Jakarta dulu, aku sering ikutan seminar psikologi. Gak peduli dimana aku ikutin, walaupun dulu kayak ngerasa salah kamar karena diselenggarain di Perguruan Tinggi Teologi –tapi itu cuma masalah tempat, karena pembahannya ya murni soal psikologi-

Salah satu seminar yang berkesan adalah soal perubahan mood ekstrim yang diselenggarakan oleh salah satu komunitas. Aku inget pas datang disambut Mbak-Mbak cantik berkurudung lebar, dia jadi panitia di meja pendaftaran dan begitu ramah menyambut peserta lain. Begitu sesi tanya jawab dimulai yang diisi oleh seorang psikiater, Mbak ini tunjuk tangan, dan cerita soal bipolar yang beberapa tahun ini dia derita. Denger ceritanya aku ngerasa ketipu sama senyumramah Mbak tadi, karena ternyata dibalik itu si Mbak punya kisah yang sedih banget. Bipolar dia udah sampai pada titik berhalusinasi, dia udah sampai pada tahap minum obat-obatan untuk nanganin perubahaan mood dia. Karena itu ganggu banget, kamu terlalu senang dan terlalu sedih di waktu yang singkat, mengganggu sama aktivitas dan kerjaan juga.

Tapi begitu ia cerita buat minta tolong sama orang tuanya, apa coba? Mbaknya dimarahin karena dianggap kurang iman dan bikin jin ganggu dia. Mbaknya pengen konsul ke psikiater, tapi mereka gak mau karena nganggap itu bikin malu. Emangnya kamu gila apa?! Karena emang orang tua Mbak-nya juga shock, mereka gak siap jika anak mereka punya sesuatu yang dianggap bikin malu di tengah masyarakat.

Mbaknya ini kalem banget loh, tipe akhwat idaman, dia juga cerita muncul halusinasi tuh pas dia bangun buat salat tahajjud. Kayaknya nuduh kurang iman tuh sadis banget. Tapi ya itulah, efek domino dari kurang pahamnya lingkungan sosial kita sama kesehatan mental, bikin penderitanya malu buat cerita, pas udah cerita malah dihina karena takut pandangan sosialnya.

Padahal apa coba? Mereka cuma pengen didengerin.

Udah.

Itulah kenapa orang-orang yang bisa mendengarkan punya catatan sendiri di hati aku sebagai orang yang penting dan layak untuk dihargai lebih. Aku belajar ilmu komunikasi sebagai harapan bisa jadi pendengar yang baik. Karena orang yang bisa bicara dengan memukai belum tentu bisa jadi pendengar yang sama memukaunya, mencoba menahan diri untuk tidak berbicara sebelum lawan bicara selesai, berempati, menemukan respon yang tepat itu adalah hal yang gak mudah.

Kalau ada yang curhat apalagi yang kelihatan memiliki tanda-tanda depresi dan penyakit mental lainnya, cobalah dekati, dengarkan apa yang menjadi beban dia, gak usah terburu-buru menilai apalagi sepele enggaknya masalah yang sedang dia hadapi. Cukup, cukup jadi pendengar dan berusaha untuk mengerti jika kita ada di posisi dia. Seolah kamu punya level toleransi yang sama dan kemudian baru mencari solusi dengan tetap menempatkan diri sebagai dia. Selalu beri pujian yang layak, buktikan kamu siap hadir buat dia. Usahakan agar dia tetap optimis memandang waktu yang akan datang.

Kalau kamu adalah survivor, selalu inget kalau aku salut sama kamu. Gak sembarang orang Tuhan pilih untuk diberi ujian seperti itu. Tetap optimis, jangan lepasin orang-orang yang bisa ngerti kamu. Kalau kamu muslim, coba makin tingkatkan diri pendekatannya sama Allah. Kalau udah dekat, makin deketin lagi, maksimalin lagi. Allah adalah pendengar yang baik, aku udah buktiin itu berkali-kali. Dia gak pernah nge-judge aku dan beneran punya solusi terbaik. Inget kamu gak pernah sendirian, Allah selalu bareng-bareng kamu. Saat gak ada orang yang muji kamu atau sekedar bilang good job, selamat kamu udah ngelakuinnya dengan baik, gak apa-apa, kamu coba bilang itu sama diri sendiri. Selalu kasih penghargaan, selalu rangkul kekurangan kamu.

Semoga lingkungan sosial kita perlahan bisa berubah, lebih arif, lebih bijak dalam berkomentar dan berucap. Karena kita pada dasarnya sama, kita adalah khalifah dengan ujiannya masing-masing. Gak usahlah mengungkapkan penilaian buruk hanya untuk membuat kita seolah-olah lebih baik. Walauhualam, semua hanya Allah yang mengetahuinya.

Jadi, kalau ada orang didekatmu yang bunuh diri, jangan dulu keburu ngetawain dia loser dan berdosa deh. Jangan-jangan, jangan-jangan nih ya, kamu juga ikut andil didalamnya. Bisa karena kamu yang jadi beban bagi dia atau kamu gak mau ikut bantuin dia saat dia minta bantuan.

Iklan
Diposkan pada Belajar, Sebuah Cerita

Gerilya : Sebuah Catatan Perkuliahan di Universitas Terbuka

Nama: Meilinda Rizky Putri Wandhani

Pekerjaan:

Mmm… pekerjaan?

Pekerjaan: Mahasiswa

Mahasiswa, aku suka pekerjaan itu. Maka setelah hampir tiga tahun setelah di wisuda, aku masih menuliskannya sebagai pekerjaan jika menulis formulir atau biodata apapun.

Lagipula aku tidak bohong.

Aku masih mahasiswa, hanya tak terlihat ngampusnya saja. Tak terlihat gedung kampusnya, kelasnya, dosennya.

Kuliah di Universitas Terbuka (UT) memang unik, dan membutuhkan kalimat efektif efisien yang berbeda dengan biasanya saat ditanya kuliah dimana? Karena tak semua orang tahu UT. Malah saat heboh kasus kampus bodong itu, orang-orang pada heboh ngobrolin UT, karena… ya… mahasiswanya ada tapi gak ada kampusnya.

Sayangnya menjelaskan UT itu gak mudah, dia bukan cuma kuliah online atau belajar jarak jauh. Ada banyak perbedaan dan keistimewaan dibanding universitas konvensional yang hanya bisa dirasakan saat kamu menjadi bagian dari UT langsung.

Jadi, aku akan membantu mengambarkan dengan mengurai cerita, mungkin saja ini bisa membantu untuk memberi penerangan ditengah stigma yang ada.  

Aku masuk UT pada Januari 2014 atau masa registrasi 2014.1. Dari sini saja UT sudah berbeda dengan Perguruan Tinggi lain, karena dia membuka pendaftara dua tahun sekali, yaitu pada awal (biasanya Januari) dan pertengahan tahun (biasanya Juli). Aku memilih program Non-Pendas alias non-keguruan dan Non-SIPAS atau tanpa paket. Jika yang mau kuliah di UT dengan rasa yang lebih konvensional, bisa memilih SIPAS. Per semesternya sudah ditentukan dengan lengkap, jadi mahasiswa tinggal cus ngikutin. Dengan memilih paket Non-SIPAS, maka semua terserah aku. Mau ambil berapa SKS per semester, mau ada tatap muka atau enggak, mau berapa tahun selesainya, pokoknya terserah, semua diprogram sendiri, yang penting tetep bisa menunjang proses pembelajaran.

Aku lalu memilih program studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) -Dulu pas daftar masih FISIP, belum ada jurusan hukum-.

Saat mendaftar di UT, usiaku 21 tahun. Mungkin terlalu tua untuk daftar program S1 dengan menggunakan ijazah SMK. Tapi sebenarnya, statusku saat itu adalah mahasiswa semester enam di sebuah Akademi kedinasan. Dan gak ada batasan usia saat kamu mendaftar atau keluar di UT. Gak peduli berapapun usiamu, dan walaupun kamu lelet menyelesaikan kuliah kamu, kamu gak akan pernah di Drop-Out. Asal kamu kuat aja buat nyelesein kuliah.

Memulai semua dari nol saat kamu hampir selesai itu gak mudah. Ijazah SMK-ku adalah untuk jurusan Teknik Komputer Jaringan, pertama ia aku gunakan untuk belajar Manajemen Pemasaran di akademi, lalu kemudian aku gunakan lagi untuk menyebrang ke dunia ilmu sosial di UT. Banyak orang yang bilang sayang: buang tenaga, buang uang, buang waktu.

Dan itu benar. Hanya jika materi yang jadi ukurannya. Dan itu benar, hanya jika kamu tidak pernah merasakan pedihnya jadi ikan yang merasa bodoh karena tak bisa terbang setelah mempelajari berkali-kali.

Semester pertama, aku mengambil 18 SKS atau 6 mata kuliah secara acak. Ada yang mata kuliah untuk semester 6, semester 7, semester 3, seenaknya aja. Aku memilih mata kuliah yang kelihatannya seru dan bisa aku tangani dengan usaha minim, mengingat saat aku juga sedang menghadapi tugas akhir. Maka semester itu diisi tutorial online beserta tugas-tugasnya saat aku sedang praktik penyuluhan dan riset rencana usaha. Bahkan minggu-minggu UAS berada diantara jadwal bimbingan laporan penyuluhan. Aku takjub sendiri kalau inget masa-masa itu.

Karena saat UAS berarti saatnya keliling kota. Jarak UPBJJ (Unit Pelayanan Belajar Jarak Jauh) Jakarta di Rawamangun jelas jauh dengan kos-kosanku di Jagakarsa. Perlu perjalanan empat jam dengan busway untuk mengurus keperluan akademik selama lima menit (catatan: dulu belum ada transportasi online dan belum ada cetak Kartu Ujian online). Jadi total delapan jam jika langsung kembali ke kosan. Belum lagi mencari lokasi UAS-nya yang berpindah-pindah. Lokasi UAS pertamaku adalah di UNJ dan yang kedua di salah satu SMP(atau SMK?) di Jatinegara. Asyiknya(?), ada mata kuliah yang jam ujiannya adalah jam pertama alias pukul 7 pagi, jika terlambat, kamu gak bakal bisa masuk.

Aku cerita sedikit soal UAS ini dulu.
Jadi, di  UT gak ada UTS, tapi langsung UAS. Tugas tiap dua minggu sekali lewat Tutorial Online menurutku udah cukup bikin pening kepala. Karena gak ada gedung kampusnya, setiap UAS, UT bekerja sama dengan berbagai instansi untuk mengadakan Ujian, biasanya sekolah/kampus. Kamu bisa milih mau ujian di daerah mana saat kamu daftar. Tapi di instansi mana persisnya, itu akan tercetak di Kartu Ujian atau KTPU (Kartu Tanda Peserta Ujian). Di KTPU juga udah jelas jadwal pelaksanaan, nomor ruangan dan nomor duduk kamu.

Maka secara ajaib kamu yang berasal dari penjuru daerah manapun, akan bisa duduk buat ujian dengan soal dan lembar jawaban yang udah dicantumi nama kamu dengan tepat. Karena walau satu kelas bisa diisi dua puluh orang, kamu belum tentu bisa ketemu sama yang satu fakultas, satu jurusan, atau satu semester. Karena kalaupun itu sama, belum tentu saat itu kamu lagi menghadapi mata kuliah yang sama. Seperti waktu UAS pertamaku waktu itu, berhubung mata kuliahku acak-acak seenaknya, lembar soalku adalah Penelitian Sosial, sedangkan yang lain adalah Ilmu Pengetahuan Agama Islam, walaupun kami sama-sama semester satu.

UAS tiap semester hanya dilaksanakan dua hari di hari Minggu, jadi gak bakal ngeganggu yang kuliah sambil kerja. Konsekuensinya, satu hari Ujian bisa berisi sampai lima mata kuliah. Full dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Aku pernah ngalamin ini loh, asli, bisa juga ngerasain muak sama buku.

Ok, kembali ke cerita saat aku UAS pertama kalinya dan harus masuk jam 7 di UNJ. Malemnya sehabis Isya aku langsung tidur, walaupun gak ngantuk, maksa aja. Berusaha gak kegoda ikut nimbrung ngobrolin soal bimbingan laporan penyuluhan temen-teman sekosan. Besoknya begitu adzan Subuh aku langsung berangkat, setengah lima dari kosan dan masih sempet-sempetnya baca modul dibawah penerangan angkot yang ngegoda buat tidur lagi. Karena ya, harus aku akui kalau kuliah sambil kuliah bikin aku keteteran baca modul. Begitu waktu UAS, masih banyak materi yang belum kebaca. Bad for me.

Oh ya, modul ini adalah alat bantu buat belajar para mahasiswa UT. Kamu bisa akses di ruang belajar virtual atau beli buku fisiknya lewat TBO Karunika (toko buku online milik UT). Tapi bagi aku, modul ini adalah bahan belajar utama. Aku gak punya waktu (dan kurang usaha juga) buat nyari materi lain di ruang belajar online UT atau media lain semacam radio/siaran televisinya. Jadi ya mau gak mau modul-modul itu udah jadi soulmate tiap semester, pengganti Dosen lah. Kemana-mana dibawa terus, ada waktu nganggur dikit lanjut baca. Apalagi kalau tebal modulnya gak kira-kira, bisa bikin kamus bermilyar kata minder. Jadi butuh waktu lama buat nyeleseinnya.
Waktu empat bulan kayaknya lama dan bisa cukup buat nyelesein, tapi kalau matkul yang kamu ambil satu semester itu ada delapan dan semua modulnya seserem itu? Bye.

November 2014. UAS semester kedua tempatnya kembali di daerah Utan Kayu Rawamangun sama salah satu daerah di Jakarta Timur. Kali ini acaranya berbarengan dengan wisuda di akademi. Maka aku harus merelakan gak ikut acara perpisahan dengan temen-temen di akademi dan ngekos sendiri di daerah Utan Kayu biar gak kesiangan saat UAS.

Sehari setelah UAS minggu pertama, aku wisuda. Dan saat itu aku masih sempetin bawa-bawa modul UT buat ujian di minggu kedua. Dan ujian itu adalah ujian terakhir aku di UPBJJ Jakarta. Karena setelahnya aku memohon ijin pindah ke UPBJJ Bandung. Aku udah gak tinggal di Jakarta setelah perkuliahan di akademi selesai, tapi meski begitu, kuliah di UT masih bisa jalan terus.

2015.1.
Aku masuk semester tiga, kali ini di UPBJJ yang berbeda dan tantangan yang berbeda. Aku mulai masuk kerja, dan… wow, ternyata aku lebih milih buat kuliah sambil kuliah dibanding kuliah sambil kerja. Bawa buku kemana-mana sambil ke lapangan, ngerjain tugas sambil jadi operator presentasi, nyuri-nyuri baca buku ditengah gaduh peserta pelatihan, bawa laptop saat nginep pelatihan buat ikut tutorial online, sampai nangkring di food court dengan tumpukan buku buat tuton demi wifi gratis saat uang honor gak turun. Mungkin kelihatan biasa aja, tapi semua itu diselipi stigma negatif lingkungan sekitar, rasa malu, rasa minder, takut ngelanggar etika, dsb dsb. Belajar di foodcourt dengan full musik dan riuh orang-orang itu rasanya gila loh. Apalagi di semester ini aku mulai ngambil matkul maksimal alias 8 matkul atau 24 SKS. Self management itu penting banget beneran, dan jujur sampai akhir aku belum bisa dengan serius ngejalananinya, jadi tiap mau UAS tetep keteteran baca modul. 

Padahal pernah loh, saat aku pergi ke belahan bumi lain yang beda zona waktunya, koperku isinya cuma modul, sama printilan lain yang bukan baju. Semua pakaian aku masukin ransel saking gak muat disana. Dilema sih, kalau gak bawa, aku perginya lumayan lama, jadi aku bakal ketinggalan tuton dan materi banyak kalau gak bawa mereka(?).

Di semester empat, 2015.2. Aku nyobain ngajuin beasiswa PPA ke UT. Alhamdulillah diterima. Sempet was-was sih karena muncul nilai C. Karena… yes, matkul Logika itu sulit, bukunya tebel, dan aku harus membagi pikiran dengan 7 matkul lain di waktu yang mepet. Aku dibuatin rekening sama UT dan uang PPA-nya ditransfer setelah aku konfirmasi ke UPBJJ. Alhamdulillah :’)

Beruntung, kali ini tempat ujiannya gak pindah-pindah dan gak terlalu jauh -walau jauh juga sih-. Tapi disini aku bisa pakai kendaraan sendiri dan ngebut dikit kalau kira-kira bakal kesiangan. Selain itu udah mulai ada cetak kartu ujian online, walau saat di semester ini aku masih manual pergi ke Tasik khususon cuma buat ngambil KTPU doang.

Di semester lima, 2016.1. Aku ternyata masih dapet rejeki beasiswa PPA. Tapi rasa jenuh mulai datang menyerang. Rasanya pengen libur dulu. Capek. Dengan kuliah tanpa tenaga tapi matkul tetep full 24 SKS, maka nilai C datang menghampiri lagi.

Di semester enam, 2016.2. Semua matkul inti tinggal beberapa, sebenarnya kalau mau bisa aja aku nyelesein semua dengan alih kredit beberapa matkul umum yang udah dipelajari di akademi. Tapi aku mutusin buat ambil lagi aja semuanya, karena matkul umum macam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PAI, dsb, yang aku ambil di akademi ternyata cuma 2 SKS, sedangkan di UT 3 SKS. Jadi, ya udahlah. Aku ambil lagi. Semester ini gak akan aku lupain karena jadi momen aku suka sama BTS aku drop sebawah-bawahnya.

Aku kehilangan laptop di bus sepulangnya aku dari Jakarta. Uniknya, si pencuri gak cuma ambil laptop, tapi juga buku Pengantar Ekonomi yang lagi aku baca. Padahal itu belum aku baca semua dan UAS tinggal seminggu lagi. Alhasil, ditengah kesedihan (haha) aku mulai ngerangkum lagi semua materi (satu buku penuh) lewat Ruang Baca Virtual UT ditemani lagu-lagu BTS. Tapi asli loh, lagu Young Forever itu ngingetin aku sama momen dimana aku lagi ngerangkum di belasan lembar HVS sambil sedih-sedih ria mengenang masa muda, wkwk. Karena, yes, kata-kata di pikiran tentang “kamu udah 23 tahun dan kamu kehilangan banyak kesempatan karena belum nyelesein studi” itu terus menghantui di saat galau. Coba kamu langsung di jalan ini, gak usah bulak-belok, gak usah kesana-kemari, daaannn sebagainya. Tapi terus lagu itu bilang, selamanya kamu jadi anak muda, meskipun kamu jatuh dan melukai diri sendiri, kamu harus terus belari menuju impianmu. 

Kebetulan? Kayaknya enggak.

Akhirnya, 2017.1. Semester 7. Aku bisa ngambil Tugas Akhir Program ditambah beberapa matkul umum yang belum aku selesein. Kali ini aku udah gak kerja dan mutusin buat fokus buat Karya Ilmiah sambil ngelamar part time (tapi aku gak dapet, mungkin emang beneran harus fokus tuh beneran fokus). Terilhami apa yang aku alami di semester sebelumnya, aku mutusin ngangkat tema soal lirik lagu BTS jadi Karya Ilmiah, haha. Tapi aku gak fangirling-an loh, itu asli ilmiah dan aku berusaha objektif ngelihat lirik lagu berbahasa Korea yang mencoba mengomunikasikan sesuatu ke pendengar lagunya.

Tapi itu berhasil.

Maksudku, kamu gak paham bahasa Korea tapi kamu bisa ngerasain apa yang sedang dicoba buat dikomunikasikan sama isi lagu itu. Yup, musik adalah bahasa universal, tapi aku lebih nyorotin ke liriknya, dan bingkai dalam sudut pandang komunikasi antarbudaya. Seriusan, aku gak pernah se-enjoy itu nulis sesuatu yang berat macam Karya Ilmiah. Sampai orang-orang taunya aku pusing karena soal ujian masuk BPJS daripada lagi nulis tugas akhir.

Nah, ini bedanya lagi di UT. Kamu gak skripsian. Gantinya, kamu harus nulis Karya Ilmiah yang peraturannya disesuaikan dengan jurusan masing-masing. Kalau udah, tinggal unggah di situs UT. Karya Ilmiah itu ngasih bobot ke nilai kelulusan barengan sama TAP atau Tugas Akhir Program. Karena aku ngambil TAP sambil kuliah juga, maka sebelum TAP aku tetep UAS kayak biasanya. Ngebut banget lah.

TAP lalu dilaksanakan sebulan -atau dua minggu ya- kemudian. TAP itu semacam ujian komprehensif. Tapi gak teoritis, kamu dikasih soal berbentuk studi kasus, dan kamu harus mecahin studi kasus itu dengan teori-teori yang udah kamu pelajari selama kuliah. Jadi kamu tahu ilmu yang kamu pelajari itu aplikasinya kayak apa di kehidupan nyata. Berhubung aku mempelajari ilmu sosial, sebenernya ngelogikainnya lebih mudah sih. Cuma kalau kamu jawab cuma pakai logika tanpa teori yang memadai, tetep aja nilainya jelek. Seingatku, saat TAP, cuma aku yang close book, karena ternyata aku sendirian dari Ilmu Komunikasi, huhuhu.

Dan kesendirian ini tetep berlangsung sampai aku wisuda kemarin. Aku satu-satunya dari Ilmu Komunikasi dari UPBJJ Bandung yang wisuda di UT Pusat.

Sebenarnya soal wisuda ini aku merasa butuh tulisan berbeda, tapi aku gak yakin bisa memenuhi niat itu atau enggak, jadi ayo selesaikan sekarang juga.

Soal wisuda di UT juga berbeda. Hanya karena UT gak ada gedung kampusnya, banyak orang yang gak ngeh soal keberadaan Perguruan Tinggi ini. Padahal mahasiswanya sangat banyak, di seluruh Indonesia dan juga beberapa negara lain macam Arab Saudi, Hongkong, Taiwan sampai Korea Selatan. Megakampus disebutnya juga. Makanya dalam setahun UT bisa ngadain wisuda sampai empat kali.

Dan yah… gratis. Aku gak bohong. Aku aja kaget. Wisudanya gak bayar. Di LIP-nya 0 rupiah. Dibilangnya udah dibayar pas masa pendaftaran. Padahal seingatku pas daftar aku cuma bayar buat SKS. Gak ada uang pendaftaran, gak ada uang bangunan (lah gak ada gedung kampusnya), gak ada uang lain-lain. Paling beli baju almamater doang. Dan padahal yang lain, biaya per SKS-nya itu murah banget loh, seriusan. Cek aja dan bandingin sama di Perguruan Tinggi lain. Paling mahal aja 41.000 (gak tahu kalau sekarang naik)/sks. Jadi kalau mau ambil satu matkul dengan 3 SKS, kamu cuma bayar 123rb. Dengan 123 ribu maka kamu udah bisa jadi mahasiswa UT, nak. Mungkin karena memang tujuan UT sebagai pendidikan tinggi jarak jauh adalah menjangkau siapa saja yang mau terus belajar tanpa batasan geografis.

Wisuda bagi mahasiswa UT yang kepanggil buat wisuda di UT Pusat punya banyak arti. Pertama, bisa lihat gedung UT yang super gede dan megah. Akhirnya bisa lihat gedung akademik fakultas yang bertingkat-tingkat, gedung rektor yang menjulang, gedung wisma UT yang ngalah-ngalahin hotel, gedung convention center yang super memadai. Semua jadi berasa wah-nya, karena kita kebiasa numpang di gedung orang lain buat ujian.

Apa coba yang mancing perhatian? Mesjidnya. Dia ada di paling depan deket parkiran, terasnya luas dan tiap tiang ada stop contact-nya. Tiap tiang pasti ada ‘pemilik’nya, mereka yang lagi duduk nyender sambil nge-charge hp, wkwk. Pengertian banget. Seakan tahu kalau orang-orang yang datang dari berbagai daerah buat ikut acara wisuda itu bisa dateng jam berapa aja. Jadi bisa nunggu disana dengan nyaman.

Kedua, kita akhirnya bisa ngelihat langsung wajah Rektor, Dekan, Dosen, Staf UT yang selama ini cuma kelihat foto sama kebaca namanya doang. Juga, bisa ketemu langsung sama mahasiswa lain yang cakupannya lebih luas dari sekedar pas UAS. Karena mereka diundang dari semua UPBJJ seluruh Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri.

Ketiga, bisa ngerasain ‘kuliah’ untuk pertama dan terakhir kalinya di gedung sendiri. Mungkin ini gak bisa relate ke semuanya ya. Karena bagi yang suka TTM alias kuliah tatap muka, mereka udah biasa. Tapi bagi aku yang cuma lewat tutorial online, acara seminar sehari sebelum wisuda itu berkesan lah. Aku juga salut loh UT ngadain seminar sehari sebelum wisuda, disebutnya sebagai pembekalan buat wisudawan. Asyik ya. Gratis lagi.

Keempat, aku bisa langsung dapet Ijazah. Ini adalah pembeda terbesar dan paling aku syukuri. Kalau di kampus lain wisuda hanya sekedar seremoni, di UT adalah sebenar-benarnya ‘perpisahan’. Semua hal yang pernah diceritain ibuku soal wisuda UT akhirnya bisa aku lihat langsung. Walau aku sempet heboh karena teledor gak bawa nomor foto, ternyata panitianya tetep nyusurin ke barisan wisudawan buat nanya siapa yang belum dapat nomor. Berhubung kita gak saling kenal dan jumlah wisudawan super banyak (kalau gak salah waktu di UT Pusat itu 1300 orang, belum yang di wisuda di UPBJJ masing-masing) jadi foto akan dicocokan berdasarkan nomor. Aku gak tahu ini nasibnya gimana karena nomornya beda wkwkwk.

Dan, acara wisudanya asik banget. Gak ngebosenin. Pas kamu masuk ke UTCC, di tiap kursi udah ada tas berisi air minum dan snack, jadi kamu gak bakalan kelaparan. Buat selingan acara pemanggilan wisudawan untuk bersalaman dengan Rektor(?), ada hiburan dari paduan suara sampai muter video testimoni yang direkam saat gladi bersih. Lucu karena nampilin banyak ekspresi wisudawan yang aneh-aneh. Seru lah. Belum lagi nyanyi-nyanyi barengnya. Nah, pas kita baris buat dikasih selamat sama Rektor itu kita bakal jalan dulu ke lobi UTCC, disana kita bakal dikasih amplop cokelat berisi ijazah, transkrip nilai dan legalisirnya. Jangan tanya gimana sigapnya para panitia buat ngejaga barisan ratusan orang biat tetep sesuai urutan. Karena sekali lagi, kita gak saling kenal dan semua hal sudah ditentukan sesuai urutan. Habis dibagi ijazah kita bakal difoto dan kemudian masuk kembali buat ke podium.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, kegiatan wisuda kemarin itu keren lah pokoknya. Live Streaming juga. Semua orang bisa nonton (dan ngedonlod).

Maka setelah sekian panjang tulisan ini, setelah tujuh semester, setelah tiga tahun enam bulan, setelah acara wisuda yang menyenangkan, aku sampai juga di titik ini. Menghadapi kenyataan bahwa ada banyak hal yang harus dikerjakan. Masih banyak hal yang harus dihadapi. Masih banyak hal yang harus dijalani.

Termasuk janji untuk menerapkan belajar mandiri sepanjang hayat.

Meski ya, aku sudah tak bisa lagi menuliskan mahasiswa di kolom pekerjaan lagi.

 

=Tulisan ini tanpa proofreading, maaf segala saltik dan kalimat tidak efektif. Semua foto adalah foto di lokasi UT Pusat di Pondok Cabe, Tangerang Selatan=

 

Belajar bukan status dan bentuk fisik lain yang bisa terlihat. Ia adalah sebuah proses yang akan berbentuk pada akhirnya.

Diposkan pada Abstrak

Harapan

Where there is hope, there are trials.

Kalau dilihat lagi, kalimat itu kalau diartikan berarti dimana ada harapan, disana ada percobaan-percobaan. Kalimat pertama sebelum koma bentuknya singular, sedangkan kedua plural. Itu berarti harapan yang dibutuhkan cuma satu, untuk bisa menghasilkan sekian banyak percobaan.

Harapan. Satu hal yang tak ingin aku ajak berteman baik sejak dulu. Karena aku takut hal menyakitkan akan terasa jika ia tidak terjadi. Aku ingin terjadi tak terjadi rasanya sama saja.

So emotionless? Maybe.

Nyatanya disangkal bagaimana juga, hati punya caranya sendiri untuk mengundang harapan. Persis seperti antibodi yang bisa dihasilkan sendiri oleh tubuh untuk mengalahkan virus penyakit yang datang. Karena, hei, siapa yang tahu kita akan jadi apa besok? Apa yang akan terjadi setelah ini? Memang apa yang menggerakan kita menyetel alarm untuk pagi hari sebelum kita tidur? Bukankah kita tak pernah tahu apa kita akan terbangun lagi? Ya, dia si harapan itu. Dia bilang, siapa tahu pagi akan kembali datang, memberikan hari yang lebih baik. Sehingga kita bisa melewati gelapnya malam dengan tenang.

Tapi, entahlah. Aku masih dalam masa mengumpulkan puzzle diri yang berantakan disana-sini pasca terjatuh berkali-kali. Jadi semua yang terjadi memang terasa membingungkan, aku tak tahu lagi apa nama perasaan yang mengikuti suatu kejadian. Aku jadi sering kebingungan dengan emosi yang aku tunjukan, tawa keras tidak berarti aku sedang bahagia, banyak bicara juga tidak berarti aku sedang bersemangat.

Sayangnya, tidak semua orang punya pengetahuan jangan pernah menilai seseorang jika kau tak pernah mencoba berjalan dengan sepatunya. Sesungguhnya 2 + 2 = 4 itu hanya ada di matematika, dalam kehidupan satu premis ditambah premis lain tetap bisa menghasilkan konklusi yang tak terduga. Bahkan diluar logika. Maka selagi aku sibuk menata puzzle diri, terkadang semua kembali acak terhambur karena penilaian orang-orang terhadap topeng yang aku tunjukan.

Memang aku terlalu naif, dan diam. Tapi dalam komunikasi, diam juga adalah bentuk komunikasi. Hanya tong kosong yang nyaring bunyinya, kalau dia diam, itu karena dia penuh. Terlepas apa saja yang memenuhinya, benar atau salah, baik atau buruk, menyenangkan atau menyakitkan, harapan atau rasa putus asa.

 

(quote di atas adalah potongan lirik dari lagu BTS berjudul Sea.)

Diposkan pada Sebuah Cerita

[REVIEW] Agust D Mixtape

fluorescéine

agust-d

Yay akhirnya Suga!!!!!

Emang y Bighit setelah ngasih tau Suga mo ngerilis album terus menghilang gaada kabar gaada teaser tetiba ngeluarin album, mv, soundcloud, semuanya dikeluarin!! Anyway bingung gak kenapa ku heboh bgt ma Suga hahahahahahah there’s something yang bikin Suga jadi top 3 di BTS listku. Ntar deh aku bikin post nya y. SKIP balik lagi.

Jadi anday sangar banget ya mas agus ini tapi tetep <3. Agust D comes from DT and Suga (dibalik). DT means Daegu Town. Ya inti nya gitu deh Suga from Daegu Town lah emang ni anak ya bener2. Agust D juga nama waktu dia masih di underground rapper gitu. Ekspetasi aku masih sub unit sih but it’s ok laah paling juga bentaran lagi bts comeback wkwkwkw.

Mixtape nya….asli ngeri wkw. I mean he’s Suga. Yang keseharian nya diem, diem, ngeliatin, ga banyak omong, doesn’t give a fck a sht, dia ngeluarin semuanya yang…

Lihat pos aslinya 499 kata lagi

Diposkan pada Abstrak, Resensi Buku, Sebuah Cerita

[Resensi] Sebuah Fanfiksi

Aku benar-benar menunggu trigger yang luar biasa untuk kembali menulis. Tapi beberapa kejadian luar biasa lewat begitu saja tanpa sanggup menarikku untuk menuliskan sesuatu. Bahkan untuk sekedar abstrak atau kata-kata mengeluh.

Hingga akhirnya pagi ini, untuk pertama kalinya aku menangis karena membaca fanfiksi.

Aku terbilang susah untuk menangisi drama, film juga hanya beberapa, begitu juga untuk buku. Apalagi fanfiksi. Yang ditulis oleh seorang penggemar tanpa maksud komersil dan (mungkin) tanpa proses editing siapapun selain dirinya sendiri.

Tapi pagi ini, aku betulan menangis karena membaca sebuah fanfiksi.

Sebenarnya aku ada niat untuk meresensi fanfiksi ini, draft tulisannya udah ada. Tapi aku terlalu banyak pertimbangan untuk melanjutkannya. Terutama karena fanfiksi ini mengandung nilai yang gak akan diterima oleh masyarakat luas. Aku terlalu berat untuk menunjukan diri kalau aku baca fanfiksi itu, tapi juga terlalu berat untuk menyimpan semua apresiasiku sendiri.

Dan karena itulah, aku memutuskan untuk tidak menuliskan judul atau pengarangnya (resensi macam apa ini). Karena aku tidak akan sepenuhnya meresensi, setelah dibaca mungkin ini jatuhnya akan jadi curhat. Lagipula fanfiksinya masih on going alias belum tamat. Sebenarnya aku menyesal udah membacanya duluan sehingga aku harus menunggu dan menunggu kapan fanfiksi ini akan update. #tariknafas

Dan aku juga menyesal karena fanfiksi ini ngasih impact padaku.

Awalnya aku agak mengelak tentang adanya impact ini, dengan bilang kalau semua kesan yang ditinggalkan itu karena gaya penulisan dan deskripsi yang apik dari penulisnya. Juga ceritanya, mungkin. Tapi, setelah hari ini, sepertinya aku harus menerima jika cerita ini punya dampak karena tokoh yang diceritakan punya karakter sama denganku.

Kesamaannya bukan dari fisik, tapi dari sifat, pemikiran, tindak tanduk, membuat keputusan, perasaan. Semuanya.
Sehingga setiap kejadian yang menimpa si tokoh, keputusan yang diambilnya itu akan sama jika aku juga berada di posisi yang sama.

Cerita fanfiksi ini sebenarnya typical drama. Tapi yang aku salut, penulisnya cukup fokus dengan sisi psikologis tokoh. Sifat penokohannya pun konsisten, mungkin karena basisnya dari orang di dunia nyata. Berlatar di kalangan konglomerat, fanfiksi ini bererita tentang seseorang yang menjadi keturunan tunggal keluarga kaya (A) yang kemudian melakukan pernikahan kontrak dengan B.
Satu tahun. Dan setelah pernikahan itu harus selesai.
JIka pernah nonton Full House, mungkin sekilah ceritanya mirip. Tapi kedua tokohnya punya kisah sedih di masa lalu, jadi gak akan sepenuhnya unyu-unyu.
Yang paling aku salut adalah, karakter A dan B ternyata sama dengan Mark dan Indah. Dua tokoh fiksi yang aku rencanakan bakal muncul di naskah novel yang entah kapan selesainya: Hujan Dibalik Jendela. Bedanya, aku gak pernah merealisasikan tulisan, sedangan penulis fanfiksi ini berhasil. Bahkan dia juga berhasil membuat pengembangan cerita yang baik dari kedua karakter ini.

A punya trauma di masa kecil yang membuatnya memutuskan untuk mengisolasi diri dan tak mau bergantung dengan siapapun. Itulah kenapa dia menolak untuk menikah, karena baginya itu berarti dia akan bergantung dan akan kehilangan lagi. Perasaan kehilangan dan ditinggalkan itu membuat A tumbuh menjadi orang yang keras dan dingin. Penggambaran bagian ini yang membuat aku salut, A tahu ia marah, tapi A tahu bahwa kemarahannya tidak berguna. Dia tahu tak seorang pun pantas untuk mendapatkan kemarahannya.

Sedangkan B sedikit jauh lebih kuat, meskipun jalan ceritanya agak sedikit lebih pelik. Tapi semua kesulitan membuat B punya banyak mimpi dan harapan. Namun mimpi itu seakan berubah saat ia harus menikah dengan A.
A dan B punya sifat yang jauh berbeda, namun sebenarnya sama. Mereka sama-sama punya rahasia, sama-sama punya luka, sama-sama sulit mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Karena itulah pengembangan perasaan mereka membuat cerita jadi gak biasa. Cara mereka memberikan perhatian, cemburu, dan ingin melindungi. Misalnya saja A yang pecinta berat kopi tiba-tiba menyimpan sekotak teh celup di lemari dapur karena tahu B sangat suka dengan teh. Atau B yang mengungkapkan perasaannya dengan menggunakan bahasa asing sehingga A harus mencari-cari apa artinya.

Belum lagi keluarga dan teman sekeliling mereka yang berhasil membuat cerita semakin seru. Teman A yang heboh dan menjadi jembatan yang baik bagi B. Adik B yang galak dan membuat hubungannya dengan A menjadi love-hate relationship. Teman kecil B yang membuat A cemburu. Sepupu A yang heboh dan juga menjadi jembatan yang baik bagi B. Nenek dan Bibi A yang gaul dan menyenangkan. Semuanya diracik apik membangun cerita antara A dan B sehingga seru untuk diikuti.

Ah, andai fanfiksi ini lebih ramah nilai, mungkin aku akan menyarankan banyak orang membacanya. Karena diksinya pun luar biasa. 

Diposkan pada Sebuah Cerita, Versus

OPEN LETTER TO MYSELF

Introvert, awalnya aku menganggapnya sebagai kelemahan. Karena ia menyebabkanku terjebak dengan banyak kesulitan yang disebabkan oleh diriku sendiri, tak nyaman dengan banyak orang, sulit untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, beban dan masalah begitu sulit untuk dibagikan, tak mampu untuk menunjukan kemampuan diri, aneh, merasa terasing, dianggap pemurung, yeah I totally not interesting person.

Istilah introvert sudah aku kenal sejak bangku sekolah, penyebabnya karena aku sadar bahwa ada yang aneh dengan diriku. Aku punya banyak sekali pemikiran dalam kepala, tapi saat harus diutarakan, dia hanya bisa berbentuk satu dua kalimat yang berantakan dan sungguh tidak keren. Bahkan seringnya dia harus aku telan begitu saja.

Entahlah dari mana awalnya, mungkin dari buku pengembangan diri yang aku baca saat putih-biru. Aku pinjam berbulan-bulan untuk aku tulisi dan kemudian menghapusinya sebelum dikembalikan. Yang aku ingat dari buku itu adalah diagram pertemanan. Saat itu kelasku memang begitu dramatis dengan sekian belas murid akrab masalah. Dari mulai sekedar minuman keras hingga pertengkaran jambak rambut ala sinteron. Sehingga, aku menempatkan diriku di lingkaran paling jauh dari siapapun dalam diagram. Aku memilih satu dua teman yang aku anggap bisa aku ajak sedikit berbagi untuk diletakan di lingkaran yang agak dekat.

Sisanya, aku sendirian. Semuanya. Bukan hanya artian fisik, tapi juga psikis.

Pemahaman tentang introvert agak meningkat sekaligus mengabur saat putih abu. Aku bersekolah di sekolah yang mayoritas adalah siswa laki-laki. Tiba-tiba saja kekompakan dan kebersamaan menjadi nilai yang diagungkan untuk siswa perempuan karena jumlahnya yang sedikit. Ada ikatan yang dipaksakan namun kemudian hidup diantara siswa perempuan. Maka kemudian aku mulai terbiasa dengan bersama-sama. Juga menjadi perhatian, juga bicara.
Meski untuk yang terakhir itu tak berhubungan dengan apa yang sebenarnya aku rasakan. Karena tampil di depan umum sebenarnya sudah menjadi paradoks tersendiri bagiku, memang benar aku malu dan harus menghancurkan dinding tebal yang kubangun sendiri untuk melakukannya. Tapi sejak sekolah menengah pertama pun ternyata aku sudah sering melakukannya, dari sekedar story telling dengan blank sekian menit didepan juri hingga membaca puisi diatas panggung.

Maka di sekolah menengah atas, hal itu kemudian terjadi lagi. Aku pernah menjadi pembawa acara dadakan acara agustusan, hingga kampanye pemilihan ketua OSIS disaksikan guru dan siswa satu sekolah yang sembilan puluh persennya adalah laki-laki dengan celetukan-celetukannya yang membuatmu terlihat bodoh. Bahkan lelucon kampanye itu tetap hidup selama berbulan-bulan dan terus diulang seperti musik latar setiap kali aku lewat di koridor sekolah.

Aku baik-baik saja, dan aku bisa melewati semua itu tanpa masalah. Aku bisa menyelesaikan setiap kegiatan public speaking itu, terlepas berhasil atau gagal, terlepas menjadi lelucon atau tidak.

Tapi untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, aku masih payah. Aku bahkan tak mengatakan pada siapapun di rumah bahwa besok aku akan kampanye didepan orang banyak sebagai satu-satunya kandidat perempuan. Aku pun tak bisa mengatakan pada siapapun betapa menyebalkannya melihat wajah dan namaku terpampang disetiap sudut sekolah sebagai salah satu kandidat ketua OSIS. Juga betapa menyedihkannya aku saat lelucon-lelucon itu terlontar. Hei, bahkan aku tak bisa menolak saat semua orang di satu jurusanku mendorongku untuk mencalonkan diri. Saat itu sebenarnya aku merasa seperti didorong ke jurang, tapi aku tak cukup pintar untuk membela diri.

Maka kemudian aku sadar bahwa introvert tak selalu mereka yang menghindari perhatian publik.

Masuk bangku perguruan tinggi, semua yang terjadi lebih kompleks dari sekedar foto yang tersebar di sudut sekolah. Aku memang kuliah, tak penah bolos. Bahkan untuk mata kuliah yang paling membuatku merasa kerdil sekalipun. Kehidupanku biasa saja, aku bahkan masih menonton video KPop untuk menghibur diri.

Tapi, sebenarnya aku punya konflik luar biasa dengan diirku. Sampai-sampai aku menganggap diriku memiliki bipolar disorder, dengan episode depression dan manic yang sangat ekstrim. Semua pemikiran itu mungkin sedikit tergambar disini. Karena blog ini aku buat sejak SMK, niat awalnya muncul karena ucapan seorang guru. “Menulislah sesuatu yang baik di internet, barangkali itu bisa jadi amal jariyah.” Meski apa yang aku tulis kemudian tak semuanya berguna, ia lebih banyak berperan sebagai tembok pendengar yang siap mendengarkan cerita apa saja tanpa peduli betapa njelimet-nya ucapanku.

Karena anggapan itu aku mulai menyadari ketertarikanku pada psikologi. Aku sering mengikuti seminar bertemakan kejiwaan(?) dan berpergian sendirian keliling ibukota dengan busway. Aku suka perjalanan, meski sendirian, meski tak ada tujuan yang jelas. Perjalanan itu sama dengan seminar piskologi yang aku ikuti: memberikan ‘sesuatu’ padaku. Meski ‘sesuatu’ itu sekedar rasa haru saat mendengar adzan magribh ketika menunggu kopaja di terminal Blok M. Jika sedikit beruntung, aku akan bertemu orang asing yang baik, menawarkan payung saat hujan, menunjukan jalan saat tersesat, menawarkan tempat duduk saat lelah di angkutan umum. Bagiku itu adalah pelajaran berharga yang tak bisa aku dapat di perkuliahan.

Hingga tentang bipolar itu, aku sadar kalau aku tak bisa menyimpulkannya sendiri tanpa pemeriksaan dari psikiater. Dan aku bisa meyakinkan diri bahwa aku tak memilikinya. Sebagai hikmahnya, anggapan itu memaksaku punya ilmu lebih untuk mengenali diri sendiri dan juga orang lain.

Memang benar, manusia terlalu kompleks untuk dikotak-kotakan menjadi introvert dan ekstrovert. Keduanya hanya ukuran untuk mengukur kecenderungan dan memahami pola perilaku yang bisa kita tunjukan.

Karena itulah, aku kemudian tahu jika aku tidaklah aneh.

Introvert mungkin seperti tak banyak –karena mereka bersembunyi-, tapi ada begitu banyak tokoh dunia yang biasa ada di buku-buku pelajaran ternyata adalah seorang introvert. Bahkan dari tes MBTI (Myers-Birggs Type Indicator, psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan) – aku mencobanya dua kali saat kuliah di web berbahasa inggris dan satu kali di web berbahasa Indonesia beberahapa hari yang lalu. Dan hasilnya tetap sama: INFJ, aku menemukan ada banyak tokoh yang juga bertipe sama denganku, dari mulai Plato, Carl Gustav Jung, Nicole Kidaman, Martin Luther King, Jr., Nelson Mandela hingga Adolf Hitler (tapi percayalah aku tak sekejam itu xD).

Oh ya, beberapa hari yang lalu juga BTS dalam event Festa-nya menyertakan hasil tes MBTI tiap anggota, dan seperti dugaanku, mereka didominasi oleh introvert –meski melenceng satu orang, aku pikir ada lima orang, ternyata hanya empat. Tiga diantaranya bahkan satu tipe.

Namjoon, sang leader. Hobi baca buku, IQ lebih tinggi dari Albert Eintein. Fasih berbahasa inggris dengan otodidak. Bisa menemukan diksi untuk rap freestyle dengan baik. Ucapan dan lirik buatannya juga penuh filosofi. Mengaku tak memiliki banyak teman dan terkadang sering terlihat seperti ‘hilang’ saat berada di kerumunan. Sering diprotes karena hanya mendengarkan musik dan memisahkan diri.

Yoongi, anggota yang seumuran denganku. Kepribadiannya terbentuk kuat karena pengalaman hidup. Lirik yang ia buat sebagian besar adalah tentang kehidupannya. Disegani, sulit mengungkapkan perasaan, menunjukan perhatian diam-diam, bicara apa adanya, malas kemana-mana bahkan hanya untuk keluar kamar, menyukai fotografi dan sering mempublikasikan hasil fotonya sendiri, tidak suka keramaian, dan sering bangun pagi buta untuk membuat lagu dengan alasan sepi.

Seokjin, anggota tertua. Dewasa, canggung, tulus, tak bisa dibedakan saat ia marah betulan dan tidak, mungkin dia terlihat narsis tapi aku merasa itu hanya untuk menutupi hal yang ia anggap sebuah kelemahan, akhir-akhir ini jadi banyak melawak tapi itu tak mencerminkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Aku merasa tuduhan sebagai anggota modal-tampang dan tekanan untuk bisa menyanyi lebih membuatnya terpengaruh. Mudah berbaur namun sangat memilih orang yang ia bisa percaya dan menjadi tempatnya berbagi mengenai hal yang sebenarnya ia rasakan.

Jungkook, anggota paling muda. Bisa melakukan hal apapun dengan baik, karena masih dalam masa pertumbuhan(?) sebenarnya sikap dia paling banyak berubah-ubah, tapi dia tak pernah mengeluh, cenderung memendam perasaan, hobi fotografi dan main game, sikapnya sangat berbeda saat didepan orang-orang yang ia anggap dekat dan saat ada orang yang agak asing. Mungkin jika ada yang pernah melihat video saat ia pertama kali masuk SMA, bisa terlihat bagaimana ia menjaga jarak dan tak mau berkomunikasi dengan teman-teman dikanan kirinya. Berkali-kali pun dia bilang jika ia tak punya teman, hingga di satu acara yang mengharuskan para idol kelahiran 97 perform, ia mengaku mulai dekat dengan beberapa teman idol yang seumuran.

Jika ada yang tahu, mungkin bisa membandingkan keempatnya dengan tiga orang lain yang berkepribadian ekstrovert: Hoseok, Jimin, dan Taehyung. Bandingkan keterbukaan mereka, cara menunjukan perasaan dan perhatian, atau mudahnya mereka berteman dengan siapa saja. Bagaimana mereka menunjukan kemampuan diri dan mendapat energi karena ada diantara banyak orang.

Maka poinnya, Mei. Apa kau sudah menemukannya?

Surat ini adalah satu dari sekian banyak surat yang kau tulis untuk dirimu sendiri dan kau putuskan untuk dibagikan di blog ini. Bisa terbaca oleh orang lain yang bahkan tak mengenalmu. Bisa terbaca bahkan jika nanti kau sudah meninggal dunia.

Tentang kehidupan ini…

Ah, mari kita menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Kau terlalu sering memikirkannya. Hingga lupa untuk tak tertawa saat mendengar masalah orang lain yang kau anggap kecil. Rasa syukur dan empati, adalah dua hal yang tengah kau bangun bukan?

Kau tahu tentang kesementaraan. Juga tentang bagaimana Allah dan segala kemahaaNya. Hanya terkadang kau memang lupa, dan semoga tulisan ini bisa mengingatkanmu lagi. Ayo jalani hidup dengan lebih baik dan positif. Perjalanan yang sudah kau lewati mungkin terlihat sangat panjang, tapi sebenarnya sebentar saja.

Diposkan pada Prosa, Resensi Musik, Sebuah Cerita, Tulisan

WHAT HAPPEN TO YOONJIN AND ME?! #EdisiGakNyantai

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….

Pertama-tama ijinkan aku buat berteriak(?) karena dua alasan, pertama, karena video buatanku di YouTube bisa-bisanya ditonton 20 ribu orang kurang dari satu minggu, dan yang kedua karena aku (menyerah) nulis soal ini di blog.

Aku bener-bener speechless ya Allah. Kok bisa. Secara itu adalah video editan pertamaku yang diupload ke YouTube, yang setelah di banned tiga kali terus aku edit ulang sampai banyak typo dan feel-nya kerasa kurang dapet.

Tapi… hiks. Walaupun jujur sih, pas selesai buat dan aku tonton ulang, I’m crying, too.

Emang video apa sih?

Buat yang terlanjur kepancing kalimat pembukaan dan baca sampai disini tapi gak suka Korea atau gak mau suka, aku sarankan untuk gak usah lanjutin baca. Please. Karena video yang aku buat ada hubungannya dengan K-Pop.

🙂

Jadi begini, buat yang suka K-Pop mungkin gak asing dengan istilah nge-ship atau shipper, yaitu orang atau kegiatan(?) masang-masangin orang. Ya, sebenernya aku juga gak tahu sih mungkin di kalangan fans bidang lain juga ada. Misal di film A, artis B sama artis C aktingnya bagus dan kita sebagai penonton pengen mereka jadi pasangan beneran di dunia nyata. Ya, semacam itu.

Kalau ditengok sejarahnya, sebenernya aku tipe orang yang suka nge-ship pasangan yang underrated alias gak banyak orang yang suka. Gak tahu kenapa, wkwk. Mungkin kriteria kecocokan bagiku agak aneh gitu ya, makannya gak pernah ada ship aku yang beneran jadi pasangan, hahaha. Oh satu lagi, aku juga jarang nge-ship sesama gender. Karena, hei, dulu aku pikir, itu aneh gak sih? Walau sebenernya friendship adalah tipe ship yang sama berharganya.

Hingga akhirnya tahun 2014, untuk pertama kalinya aku nge-ship JB dan Jinyoung di Got7. Di salah satu acara, pesan Jinyoung buat JB terasa sangat menyentuh, “kalau gak ada Hyung, maka aku juga gak akan ada.” Ah… sedih pisan. Keinget kalau dua orang ini audisi dan masuk JYPE bareng, trainee dan debut sebagai JJ Project juga bareng. Beberapa drama mereka juga bintangin bareng-bareng, sampai akhirnya mereka harus debut lagi dalam Got7. Posisi JB yang kini jadi leader dan tambahan member lain disekitar mereka, (mungkin) membuat hubungan mereka jadi kerasa agak beda. Dan pesan Jinyoung itu, mau gak mau bikin aku ngiri sama persahabatan dia sama JB.

Oke, kembali ke topik Video.

Jadi, sejak mulai mengikuti BTS, aku gak bisa nolak buat gak nge-ship lagi. Awalnya, karena cuma penasaran dengan kedekatan dua orang anggota karena mereka kelihatan beda kepribadian: Suga dan juga Jin. Tapi ternyata rasa penasaran itu malah mengantarkan aku pada titik ini, dimana aku susah payah buat video tentang mereka dan sekarang aku nekat menulis tulisan ini.

Nama ship mereka YoonJin. Yoon diambil dari nama asli Suga yaitu YoonGi dan Jin yang merupakan kependekan dari SeokJin. Kalau yang sudah tahu BTS, mungkin kalian bisa kebayang betapa beda kutubnya dua orang itu. Bahkan jujur sih, sebelum tahu nama-nama anggotanya, aku sampai menganggap jika Jin itu anggota yang tersesat (huaaaa maaaaf). Soalnya kasihan, konsep BTS yang hip-hop kerasa kurang cocok sama dia. Dia tipe cowok baik-baik yang humoris tapi penuh dengan awakwardness(?), pribadi Jin mungkin bisa diwakili oleh merah muda sebagai warna kesukaan dan kemampuan masaknya yang bikin aku iri. Bandingin deh dengan Suga, dia salah satu nenek moyang BTS, salah satu pencipta lagu dan masuk 10 besar rapper tercepat di Korea. Bicaranya terlalu jujur(?) dan kadang berpotensi menimbulkan sakit hati. Kesan yang didapet kalau belum kenal kemungkinan besar ya… orangnya dingin.

Perbedaan itulah yang kemudian mendasari kenapa aku menaruh perhatian sama YoonJin. Apalagi setelah mencoba mendalami(?), yang aku temukan cuma komentar-komentar yang bilang kalau Suga itu jahat pada Jin. Canggung. Kaku. Mereka gak sama dengan hubungan anggota lain yang lebih muda yang rame dan bisa nge-alay(?) bareng. Apalagi latar belakang mereka juga jauh berbeda.

Pertama, Suga. Sebelum memutuskan menjadi musisi, Suga punya kehidupan yang bisa dibilang cukup keras. Masalah ekonomi, hubungan dengan orang tua yang kurang baik, sampai menderita social phobia dan konon sempat mencoba bunuh diri. Saat ia akhirnya hijrah ke Seoul dan menjadi trainee, Suga harus bersekolah di SMA ibukota yang lumayan mahal dan memaksanya kerja sampingan. Mimpinya dengan musik udah dimulai sejak ia masih di Daegu dengan dia sering perform di underground. Karena itu dia kebiasa nulis lirik sama buat lagu. Big Hit sendiri udah merencanakan dia bakal debut sama grup hip-hop, tapi siapa yang tahu kalau ternyata dia harus debut dengan BTS dengan format dance. Itulah kenapa di awal-awal Suga masih harus ngebiasaan diri kalau dia itu idol dan harus latihan dance. Dia juga butuh penyesuaian sampai akhirnya bersedia merhatiin penampilan. Cibiran sana-sini terutama dari para rapper underground gak menghalangi dia buat merilis mixtape solo.

Kedua, Jin. Konon dia satu-satunya anggota yang disuruh Big Hit ikutan audisi dan bukan atas kemauan sendiri. Siapa yang sangka dia lolos, padahal dia gak punya latar belakang musik sama sekali. Jin kuliah di bidang akting, karena itu mimpinya sebenarnya bukan jadi penyanyi. Pas terpilih jadi trainee, Jin adalah orang yang paling harus memulai dari awal lagi, latihan nyanyi, nari, dan tentu aja harus nyesuaian dengan konsep BTS yang hip-hop. Karena itu Jin gak pernah dapat line lagu yang banyak, dance juga terbiasa di belakang dan pemain sayap(?). Kalau Suga dapat banyak cobaan pas sebelum debut, Jin justru pas dia udah debut. Sebutan gak berguna dan hanya modal tampang sering banget ditujukan ke dia. Bahkan katanya lagu ciptaan dia sampai ditolak dua puluh kali, tapi dia gak pernah nyerah dan terus nulis sekalian latihan vokal juga.

See? Mereka beneran beda. Makannya aku gak bisa nyalahin sih kenapa kemudian YoonJin underrated. Bagaimana bisa kamu suka sama hubungan seseorang yang gak hangat dan bertolak belakang?

Sampai akhirnya, aku menemukan fakta mengejutkan.

Ternyata di dorm, mereka teman satu kamar. Aku nemu fakta ini pas BTS pindahan dorm dan banyak yang bilang kalau YoonJin jadi teman satu kamar LAGI.

Kalau LAGI ya berarti sebelumnya udah dong? Kok bisa?

Dan ternyata, kamu hanya harus lebih peka. Suga bukan orang yang dingin, apalagi jahat, dia hanya gak kebiasa menunjukan perasaannya terang-terangan. Apalagi pada Jin yang tipenya beda banget sama dia. Ketika aku berhasil menemukan itu, wow, persahabatan mereka indah banget. Beneran. Sebenarnya tiap anggota BTS pasti dekat, mereka udah sahabatan bertahun-tahun. Tapi YoonJin, bagiku tetap kerasa istimewa.

Karena itu, setelah mikir panjang dan berbagai pertimbangan(?), aku niatin buat video soal mereka. Awalnya sih cuma buat nunjukin bahwa mereka gak sedingin itu, mereka menunjukan cara kedekatannya dengan hal yang beda dengan anggota lain. Tapi siapa sangka, pas aku tonton lagi sendiri, aku ngerasa ada yang salah sama diriku sendiri.

Kok aku sedih ya lihat videonya?

Ternyata pas lihat komentar-komentarnya di YouTube, mereka gak hanya ngomentarin YoonJin, tapi juga banyak yang ngerasa merefleksikan persahabatan YoonJin di kehidupan nyata. Orang-orang yang setipe Suga, yang senang dengan sepi dan sulit untuk mengungkapkan perasaan, mungkin akan merasa tenang dengan adanya orang yang mirip dengan Jin di sekitar mereka. Orang-orang yang satu kepribadian dengan Jin juga sebaliknya.  Membutuhkan orang-orang seperti Suga dalam hidupnya.

Maka kemudian komentar-komentar itu membuatku berpikir lebih. Beda dengan JJ Project dulu, YoonJin ternyata gak bikin aku suka karena hubungan mereka aja, tapi juga karena their personalities has a little bit(?) similarity with me. Apalagi usiaku dengan mereka hampir sama, Suga kelahiran Maret 1993 dan Jin Desember 1992. Kelihatannya jauh karena beda tahun, tapi sebenarnya Jin hanya lahir tiga bulan lebih cepat dari Suga kan? Satu lagi, aku gak tahu ngaruh atau enggak, tapi aku dan mereka sama-sama golongan darah O. Jadi kelakuan dan tingkah laku mereka kadang-kadang mah ngingetin sama tingkah diri sendiri ._.

Karena itu, ada gambaran saat aku membangun sebuah hubungan dengan orang lain saat aku melihat YoonJin. Soal kepercayaan menyanyikan lagu Dead Leaves, atau soal curhat karena gak kebagian peran penting di grup, atau soal pujian dan hadiah. Mereka gak lagi main drama yang buat kita ngeh tentang semua itu. Semuanya off the record. Karena itu mereka seperti gak dekat saat di depan kamera. Tapi mereka punya kedekatan yang berbeda.

Kalau mau mampir dan lihat videonya, silahkan tonton dibawah ini. Karena gak punya channel pribadi, aku numpang punya adek 🙂

P.S.

Update Juli 2017.

Video aslinya sudah dihapus karena channelnya kena strike, jadi videonya di upload ulang dan penontonnya gak sebanyak itu :’)

Diposkan pada Abstrak, Sebuah Cerita

Rezeki

Dua ribu dua ratus rupiah, adalah jumlah pendapatan pertamaku hasil berdagang permen karet dan makanan ringan lain. Saat aku duduk di kelas lima SD. Saat perjalanan pulang, aku terus memandangi uang-uang itu, dan meyakinkan diri bahwa aku tidak akan pernah melupakan mereka.

Aku tidak punya bakat berdagang sebenarnya, aku melakukannya karena paksaan ibu. Sebagai orang pemalu dan pendiam, menawarkan seseorang untuk membeli daganganku nyaris mustahil. Lebih dari itu, matematiku payahnya gak ketulungan. Ngasih kembalian atau menghitung penjualan itu susah sekali. Tapi hei, hari itu, ternyata aku punya uang sendiri.

Sampai lulus SD aku masih membawa dagangan ke Sekolah –ke dalam kelas lebih khususnya. Jenisnya beda-beda, dari makanan ringan macam makaroni hingga buah manggu yang super berat. Alasannya, kadang-kadang kakekku sebagai penyuplai barang minta tolong untuk dijualkan. Kalau sudah begitu, kadang buah-buah itu busuk karena tak terjual. Beban dalam benakku lebih berat daripada kresek dagangan yang ku bawa. Aku tidak pandai berdagang, sungguh.

Tapi saat itu ada mini market buka di dekat sekolah, ia langsung terkenal karena saat itu konsep swalayan belum pernah ada. Setiap istirahat, banyak teman-teman yang beli es krim kesana. Uh, bukan es krim kacang hijau seratus-dua ratus dalam plastik unyil, tapi itu punya merk.  Rasanya pun sudah tentu, pasti –atau mungkin- sangat enak. Karena tertarik, maka sekali waktu aku ikut rombongan ikut ke mini market. Saking kampungannya, aku gak baca harga es krim dan langsung menuju kasir.

Beruntung teman-teman yang lain sudah meninggalkanku sendirian saat itu. Karena yang terjadi adalah, harga es krim itu jelas lebih mahal dari yang aku perkirakan. Kasir sudah men-scan barcode dan meunggu pembayaran. Sedangkan aku hanya bengong, karena meskipun uang sakuku masih utuh hari itu –seribu rupiah- tetap saja tak akan bisa menebus es krim menggoda itu. Maka dengan polosnya, aku bertanya pada kasir, bolehkah aku membayar setengah harga dulu dan melunasinya besok.

Ah.

Jelas aja Mbak Kasirnya geleng kepala. Maka dengan sedih hati aku bilang aku gak jadi beli es krim itu dan mengembalikannya sendiri. Karena malu, aku lalu mengambil sebuah minuman serbuk sachet dan bilang jadinya akan membeli itu. Perkiraanku benar, harga minuman serbuk itu jelas lebih murah dari uang yang aku punya. Aku pun berhasil membawa pulang sang minuman itu dan bertingkah seolah tak ada kejadian bodoh didepan teman-teman yang sedang menikmati es krimnya.

Maka uang dua ribu dua ratus itu membawa banyak arti bagiku.

Semasa SMP aku tak berdagang lagi. Malu, you know ngasih kembalian lama banget itu rasanya bodoh. Tapi entah bagaimana aku mulai bisa membeli barang pribadiku sendiri, dari mulai sabun muka, sampo, mencicil kertas HVS setiap pulang sekolah untuk mencetak naskah di rumah, hingga mengeposkan naskah sendiri ke penerbit. Uang sakuku dua ribu saat kelas satu, dan tak berubah banyak hingga aku lulus sekolah.

Masuk SMK aku mulai punya telepon genggam sendiri. Ibu memberitahu sebuah counter yang mau menerima penjual pulsa dengan sistem setoran, bukan deposit. Maka meski counter-nya jauh banget, dua kali naik angkot, aku ya daftar juga.

Duh, bingungnya gak ada dua. Berhari-hari aku cuma isi pulsa untuk kepentingan pribadiku sendiri. Aku gak berani ngasih tahu teman-teman lain kalau aku jualan. Berbeda dengan dagang makanan yang kelihatan dagangannya. Kalau pulsa yang kasat mata itu jelas gak bisa ketahuan kalau aku sendiri yang bilang. Hingga aku mulai memberanikan diri nawarin ke teman paling deket. Teman-teman perempuan yang hanya ada enam orang di kelas. Tapi ajaib, aku gak akan pernah habis pikir sama prosesnya sampai semua teman sekelas tahu aku jual pulsa. Bahkan aku sampai pernah tertipu ratusan ribu oleh seorang kerabat teman dan harus melibatkan orang tua untuk menyelesaikannya.

Di kelas dua, seorang teman yang berbeda kelas bahkan ikut jual pulsa di kelasnya lalu menyetor uang padaku. Pun seorang teman dari teman SMP yang berbeda Sekolah, juga ikut berjualan pulsa di Sekolahnya dengan menyetor uang padaku. Padahal aku yang gak jago ngomong ini gak pernah promosi apa-apa. Serius.

Maka jadilah hampir tiap minggu aku menyetor ke counter, dua kali naik angkot untuk berangkat, jalan kaki sedikit, lalu naik angkutan umum sekali saat pulang. Saat itu uang sakuku sudah dibiasakan per bulan, jumlahnya tujuh puluh lima ribu. Kalau udah mulai menipis, uang pulsa itu kerasa banget berharganya.

Karena kuliah diluar daerah, aku terpaksa berpisah dari counter baik hati itu. Di Jakarta, aku harus hidup dengan uang saku sembilan ratus ribu empat puluh ribu per bulan. Saat itu aku sudah punya modem, uang saku ketika sudah dikurangi uang kosan dan perkiraan uang makan, harga pulsa modem rupanya lumayan mencekik. Karena terbiasa mengisi pulsa sendiri, rasanya sedih saat membeli pulsa ke counter. Akhirnya aku nekat daftar jual pulsa secara online dan deposit lewat ATM. Kalau tanggal tua dan di ATM gak bisa ditarik lagi, aku lalu daftar jual pulsa di counter deket Kampus. Berbulan-bulan aku cuma deposit sejumlah uang pulsa yang aku anggarkan. Aku gak niat jualan sama sekali, aku isi pulsa hape dan modemku sendiri. Tapi, ah. Gak tahu gimana temen-temen sekelas pada akhirnya tahu.

Kagok edankeun. Kalau di LDK atau Teater bakal kegiatan atau pementasan, dan (pasti) ada Dana Usahanya, aku selalu kebagian jualin kue-kue basah di kelas. Udah kayak warung berjalan temen-temen bilang. Karena akhirnya, walau di organisasi gak ada kegiatan, aku selalu beli sendiri kue basah itu. Lumayan jauh sih, dua kali naik angkot pulang-pergi, jadi harus berangkat pagi-pagi banget. Tapi kalau misalnya gak habis, ya lumayan bisa dimakan sendiri. Di ruginya pun, tetep kerasa kenyang.

Tapi aku mulai berpikiran aku mulai bisa berdagang?

No. Gak sama sekali. Aku lebih sering rugi sebenarnya, mau itu pas jualan pulsa atau jualan kue. Mau itu uangnya kepakai atau uang setoran yang pasti selalu kurang. I don’t know why. Aku sering banget nombok dan berakhir dengan ngabengberah sorangan. Bahkan dengan doktrin wirausaha yang aku dapat selama perkuliahan pun. Kenapa ya, kenapa. Aku lebih sering bingung kenapa aku gak bisa. Kalau ada yang perhatikan (tapi aku yakin gak ada), dalam setiap kegiatan bertema kewirausahaan atau pengembangan diri berbau kewirausahaan, aku gak pernah nulis apapun soal mimpi punya usaha yang besar. Kecuali karena ada tekanan sosial lihat teman-teman lain punya redaksi mimpi yang berhubungan perusahaan, aku ya kadang jadi masukin. Tapi gak pernah muluk-muluk.

Maju, Empati, Ikhlas, adalah singkatan dari namaku saat kegiatan CEFE. Maju untuk urusan dunia, Empati untuk kebaikan orang lain, dan Ikhlas untuk urusan akhiratku. Udah sih, gitu aja. Aku dikasih ilmu dan banyak teori tentang kewirausahaan selama perkuliahan. Pertanggungjawabannya berat jika aku gak mengamalkannya. Apalagi ada harapan negara bro, karena aku hidup tiga tahun dari uang rakyat. Jumlahnya lumayan buat memperbaiki infrastruktur di timur Indonesia.

Ah, kumaha atuh.

Pulang ke kampung halaman, menunggu wisuda ibuku mengajak ke tempat ia mengajar dulu. Lumayan pedalaman tapi masih kejangkau angkot walau lewatnya untung-untungan. Dia bilang disana ada pembuat keripik singkong yang enak. Kita lalu beli berapa kilo gitu terus ngebungkusin sendiri.

Ya Rabb, aku gak mungkin bilang kalau aku udah berapa kali perang dingin sama ibuku –juga sama diriku sendiri- selama urusan dagang berdagang keripik itu. Apalagi sampai dapat suplier deket rumah kakek, beuh… makin menjadi. Tapi ya karena aku udah bilang disini ya sudahlah, aku mengaku banyak dosa sama ibuku. Bahkan ibuku sampai gak habis pikir kenapa aku masih aja gak mau berwirausaha padahal udah dari kecil kebiasa dagang.

Tapi bagi an introvert person like me, di dorong buat berinteraksi dan bertemu orang baru itu butuh energi lebih. Karena aku udah bisa bawa kendaraan sendiri –walau nabrak-nabrak-, aku nyari banyak warung atau kantin buat diitipin barang dagangan. Kenyang banget lah ketemu ibu-ibu pedagang atau bapak penjaga kantin yang ramah banget sampai jutek banget. Selama menjalani kontrak di Dinas –karena kuliahku ikatan dinas- tiap minggu aku isi sambil keliling nitip sama ambil dagangan. Aku gak pernah promosi sekalipun, paling sesekali di media sosial dan kemudian tenggelam.  Setiap pulang kerja pun, walau capek banget, aku pakai buat ngebungkusin dagangan sambil nonton video Korea biar gak ngantuk, wkwk.

Tapi, hei. Aku ngerasa gak pernah gak punya uang.

Bahkan di saat honor telat datang atau keadaan dagangan yang sepi sekalipun. Seenggaknya aku masih reugreug karena punya tabungan. Lebih ajaibnya lagi, aku bisa ngasih kembalian dengan kecepatan yang lumayan. Walau kadang salah, but it’s okay.

Tapi kalau harus bilang aku kayak robot, aku gak keberatan. Aku melakukannya semuanya sejak awal sesuai perintah dan kepepet kebutuhan. Tapi apa aku bahagia berwirausaha?

Aku pernah ditertawakan karena menyandingkan kebahagiaan dengan relalitas. Nabi Muhammad adalah pedagang, tujuh dari sepuluh pintu rejeki berasal dari perniagaan. Indonesia butuh lebih banyak wirausaha juga, yes, I know. Aku bahkan mengulang-ngulang materi kewirausahaan kepada peserta pelatihan. Kita gak boleh miskin, kita harus kaya, ok, how can I wanna be a poor.

Tapi…

Apa saat ini aku masih berwirausaha?

Jawabannya masih. Apalagi sejak tidak bekerja dan kembali berstatus mahasiswa sepenuhnya. Aku masih jualan pulsa dan masih bungkus-bungkus makanan. Tapi, aku harus akui mereka begitu flat karena hatiku gak ikut disana.

Meski kemudian aku sadar, rejeki itu… ah, Allah. Allah yang kasih. Kalau dilihat dari satu sisi, aku bisa saja mengeluh. Tapi nyatanya, rejeki memang gak cuma soal uang. Aku yakin, berdagang dan wirausaha hanya soal jalan saja. Uang dua ribu dua ratus itu hanya jalan saja. Sehingga aku tahu bagaimana sulitnya orang tua mencari nafkah. Hei, saat kecil, aku berjualan di sekolah bukan karena aku pantas dikasihani. Keadaan orangtuaku cukup baik dan kami masih terjangkau untuk beli daging sebagai lauk.

Aku juga jadi belajar berhemat dan bersabar untuk memenuhi keinginan. Aku tak pernah berprinsip untuk tidak memberatkan orang tua dengan tak meminta uang lebih pada mereka. Tapi itu terjadi begitu saja, karena uang dua ribu dua ratus itu.

Aku juga jadi belajar membuka diri dengan teman-teman sebaya. Di SMK, aku terlalu sering mendengar humor anak laki-laki sehingga tanpa sadar mulai tertular. Jika bukan karena jualan pulsa, sebenarnya tak ada seorang pun punya alasan untuk mengirim SMS atau berinteraksi lebih. I’m not interesting person. Begitupun kue-kue basah untuk kegiatan Dana Usaha. Aku yang menangis payah sebelum Ujian Akuntansi ini bisa mulai belajar memisahkan uang pribadi dan uang setoran, menghitung uang recehan dan punya catatan meski acak-acakannya gak ada dua.

Dan tentu saja, mulai berdagang sendiri dengan re-packing adalah yang paling berkesan. Dia membuatku terkadang merasa tak mengenal diriku sendiri, dia membuatku memaksa diri untuk berusaha lebih keras dari biasanya, hingga membuat diriku sendiri takjub, hingga membuatku ingin menepuk punggungku sendiri dan mengatakan bahwa aku luar biasa. Sebenarnya aku punya self esteem yang rendah. Sejak kecil aku minderan dan itulah kenapa aku merasa lebih rendah dari orang lain. Aku bisa dengan cepat menulis semua kekurangan tapi waktu sangat lama untuk menulis kelebihan diri. Sering dibanding-bandingkan dan beberapa pengalaman traumatis penyebabnya. Tapi, tak usah diceritakan lah.

Bahkan, hei, aku bisa menjadi pembicara di depan orang banyak. Membahas tentang kewirausahaan yang sebenarnya sangat payah aku praktikan. Pikirku, jika aku tidak bisa menjadi wirausaha yang baik dengan ilmu yang aku miliki, maka mungkin aku bisa membuat orang lain yang melakukannya. Sebagai pembicara aku juga tidak tergolong baik sebenarnya. Karena lebih seringnya aku membuat para pendengarku tidur.

Maka, hari ini aku masih disini. Tak punya penghasilan tetap. Menambah angka pengangguran terbuka negaraku tercinta dan beban hidup keluarga. Tapi apa rezeki dari Allah terhenti? Bahkan saat aku berbuat dosa pun Dia masih memberi kekuatan pada jantungku untuk berdetak. Aku hanya berharap diberi keajegan keyakinan seperti ini. Pandangan hidupku tentang dunia, rezeki, uang, pekerjaan, semuanya. Karena itu adalah rezeki terbesar yang pernah Allah berikan.

Oh ya, aku tidak sedang meratapi nasib atau desperate dengan masa depan. Aku hanya sedang menjalin lurus benang kusut dalam benakku yang memintal semenjak aku kecil.

Diposkan pada Sebuah Cerita

Slang Bahasa Korea #3 : (삼/오/칠)포세대

LanguAddict!

Pernah dengar tentang 삼포세대 (sampo sedae/generasi ‘sampo’ (3po)) atau 오포세대 (opo sedae/generasi ‘opo’ (5po))? Well, saya pertama kali dengar istilah ini di lirik lagu 쩔어 (Dope) dari 방탄소년단 (Bangtan Boys/BTS). Liriknya begini nih :

“3포세대 5포세대. 그럼 난 육포가 좋으니까 6포세대 (generasi 3po, generasi 5po. Kalau begitu aku generasi 6po (yukpo) karena aku suka yukpo (daging kering).”

Pertama kali dengar saya kepikiran ‘ini maksudnya apa ya?’ tapi malas nyari maksudnya apa. Eh tadi saya dengar lagunya BTS (lagi) yang judulnya 뱁새 (silver spoon) ketemu istilah ini lagi. Akhirnya saya kepo dan searching maksudnya apa dan ternyata cukup menarik.

3po generation, img credit : @haj4062 blog.daum.net

Lihat pos aslinya 344 kata lagi

Diposkan pada Resensi Musik, Sebuah Cerita

JYP Entertainment Itu… (Versi 2.0)

Tulisan tentang JYP Ent kayaknya adalah tulisanku yang paling sering dikunjungi di blog ini. Padahal itu tulisan lama, sekitar tahun 2014. Alasanku nulis itu karena dulu banyak yang bilang JYPE bukan lagi termasuk Big Three bareng SME dan YGE. Wajar sih, dari dulu pun sebenernya aku gak pernah ngelak kalau pendapatan mereka memang jauh dibawah si dua besar, bahkan dibawah FNCE dan LOEN(?). Tapi selain itu, mereka tetap pantas disebut Big Three.

Masuk 2015, ternyata dinamika perusahaan ini beda lagi. Terutama karena mereka mendebutkan dua grup sekaligus termasuk survival show-nya. Hingga melahirkan Day6 dan juga Twice. Nah, yang disebutkan belakangan itu udah seperti penyelamat bagi JYPE, lagu-lagu mereka booming, pendapatan JYPE pun meningkat. Disisi lain, banyak yang ngeraguin kemampuan member Twice, anti fans bertebaran, stigma negatif pun kembali datang.

Ditambah lagi, nasib Day6 yang debutnya cuma beda satu bulan jauh berkebalikan. Grup yang berformat band ini jatuh bangun sejak awal. Ditinggal member dengan desas-desus yang menyudutkan, promosi dari JYPE pun dianggap kurang. Ketika Twice udah menang Rookie Award, Day6 masih busking di jalanan. Belum lagi awal tahun ini Wonder Girls bubar, kontrak dengan Suzy pun udah abis. Lagi-lagi JYPE dibilang gak bisa me-manage artis lawasnya dengan baik.

So?

Secara sekilas, aku bisa dengan mudah ninggalin grup jebolan perusahaan ini. Apalagi banyak grup lain yang gemilang banget prestasi dan karyanya. Tapi sebenernya dari dulu aku open minded kok sama grup lain. Peraturannya cuma satu, gak boleh benci. Kalau gak suka, just keep alone. Tapi kalau dipikir-pikir, JYPE still deserve my attention.

Pertama, apa yang aku tulis di artikel JYPE sebelumnya itu belum berubah sampai sekarang. Para artisnya masih saling mendukung dan kayak keluarga. Memang makin besar jumlahnya, banyak juga yang senior udah pindah agensi, tapi kekeluargaan itu masih kerasa. Karena gap umur, aku sih bisa paham kenapa artis JYPE gak bisa sehangat dulu, kedekatannya lebih kerasa kayak kakak-adik. Twice – 2PM, beda umur mereka bisa sampe 10 tahun. Tapi mereka bisa tetep saling dukung.

Emang sih kadang aku kangen ngerasain kedekatan JYPE macem sahabat kayak 2PM-2AM, atau MissA-WG. Tapi Twice-Got7, Got7-Day6, Twice-Day6, bahkan Day6-15& atau 15&-Got7 itu juga sama menyenangkannya kok. Bahkan ada satu hal yang aku salut, artis yang udah keluar dari JYPE secara baik-baik (catat ini) masih sangat akrab dan berhubungan baik dengan artis dan mantan agensinya. SanE misalnya, dia bahkan masih bisa keluar-masuk gedung JYPE dengan bebas. Sunye yang keluar dari WG karena menikah, bahkan pernah dateng kesana sambil bawa keluarganya. Jia juga masih sempat jalan-jalan dengan JYP-nya langsung. Jangan tanya soal 2AM, yang meski sudah beda-beda agensi, tapi tetap sangat berhubungan baik. Pun dengan Wonder Girls, yang memutuskan bubar Januari lalu.

Sejak dulu, aku paling salut dengan persahabatan di WG. Member mereka bongkar pasang, tapi apa ada yang berkonflik? Nggak. Hyuna, Sohee, Sunye, Sunmi –yang kemudian masuk lagi, semua masih berteman. Bubarnya WG murni karena habis kontrak dan hanya dua member yang memperpanjang. Yeeun dan Sunmi yang memilih keluar, aku percaya mereka punya mimpi lain yang gak bisa dikejar kalau mereka berstatus sebagai member WG. Pokoknya sampai saat ini, cuma WG yang salutin segala macemnya. Mereka bahkan bisa bertransformasi sebagai band dan dance grup sekaligus. Mereka belajar instrument selama berbulan-bulan dan bisa punya dua album dengan format band –yang terakhir, mereka bahkan tulis sendiri lagunya.

Sedangkan buat artis yang keluar dengan cara tragedi dan desas-desus kurang enak, macam Jay Park dan Junhyeok, aku milih buat gak nge-judge salah satu pihak. Yang pasti, JYPE dan artisnya pasti punya kepentingan dan andil sampai kesalahan itu terjadi. Tudingan kalau JYPE terlalu mentingin citra artisku anak baik-baik itu bisa jadi ada benarnya, tapi juga gak bisa jadi kesalahan. JYPE adalah perusahaan terbuka, mereka punya pemegang saham, punya investor, punya publik sendiri tempat mereka bertanggungjawab. Orientasinya tetep keuntungan, karena mereka gak ngemodal sendirian, dear.

Kedua, artis JYPE gak layak disebut ngandelin visual doang. Pendapat ini berkembang sejak Twice debut. Kemampuan vokal mereka emang rata-rata, bahkan ada yang masih kurang. Tapi kesembilan membernya punya visual yang menonjol, popularitas langsung melejit dan udah dapet penghargaan setingkat Daesang. Tapi itu tetep bukan alasan ngasih stigma yang menggeneralisasikan kayak gitu. Kalau soal girlgroup-nya, coba lihat WG sama MissA, apa mereka hanya modal tampang? Begitu juga dengan boygroup-nya, mereka punya visual, tapi gak ada yang hanya mengandalkan itu. Bahkan coba lihat JYP-nya sendiri, dia masih aktif sebagai artis loh.

Jika nonton drama Dream High, mungkin kita bisa dapet idealisme dari JYPE terhadap tokoh Pilsuk yang gendut tapi bersuara bagus. Dengan dramatis, ia keterima masuk Kirin namun tetep harus diet. Kenapa? Karena ini industri hiburan, si penyanyi gak cuma buat didengar, tapi juga buat dilihat. Itulah pahitnya, dienggak-enggak karena idealisme, kita tetep harus mau nurut kalau mau diterima.

Masih sama dengan poin di tulisanku yang awal, JYP emang gak pinter nyari orang berbakat. Kalau yang udah ngikutin berita perkoreaan, pasti udah hafal daftar artis-artis terkenal yang gak lolos audisi di JYPE padahal punya suara bagus. Malah sampai bikin JYP-nya sendiri nyesel senyesel-nyeselnya. Dari mulai CL, IU, Hyorin, dan lain sebagainya yang banyak banget itu. Aku gak mungkir kalau agensi lain lebih bagus dalam hal ini.

Tapi menurutku, JYPE selalu punya artis yang mau belajar. Mereka kayak gak berbakat di awal, tenggelam, tapi mereka akhirnya bisa bersinar dengan caranya sendiri. Sohee dan Sunmi contohnya, mereka adalah member yang selalu dibilang gak bisa nyanyi. Chansung dan Nichkhun juga begitu. Jun.K yang betulan main vocal aja butuh waktu buat semakin berkembang.

Kalau ada yang nganggap hal itu beda kasus dengan Twice, maka aku harus jelasin Twice lebih khusus. Dahulu kala, jauh sebelum Sixteen –acara survival yang membentuk Twice- dimulai, JYPE udah mau debutin grup dengan nama 6Mix yang beranggotakan 6 orang. Salah satu member yang sudah bocor adalah Lena, buat yang ingin tahu boleh tonton MV Sunmi berjudul Full Moon, Lena featuring dengan Sunmi di lagu itu. Bahkan dia ikut promosi di acara musik nemenin Sunmi. Lihat gaya Lena dan penampilan salah satu member lain Cecillia Boey, aku percaya pas orang lain bilang konsep 6Mix bakal kayak MissA. Garang dan punya gerakan dance yang sulit.

Tapi apa mau dikata, Lena sama Cecillia ternyata keluar sebelum debut. Mereka pulang ke negara asalnya(?) karena Lena ikut acara Miss Korea-Amerika. Hingga akhirnya hanya tersisa Nayeon, Jihyo, Jungyeon dan Minyoung. Seakan diburu waktu debut, JYPE buat acara Sixteen. Gak tanggung-tanggung, 16 trainee ceweknya ikutan di acara ini. Tujuh orang trainee yang bertahan bakal debut sebagai Twice.

Siapa yang sangka, Minyoung –sang member 6Mix- malah gak jadi ikut debut sebagai Twice bareng ketiga temennya. Dia gagal menarik perhatian penonton meskipun suaranya bagus. Sebagai gantinya, Twice diisi empat orang baru, dan bahkan dua member tambahan yang dapat wild card.

Acara ini melibatkan penonton dalam voting, tentu saja itu sekalian tes pasar bagi JYPE. Tiap member sudah punya fansnya sendiri. Urusan ternyata tidak ada member yang punya vokal kuat tidak menjadi masalah. Konsep Twice juga ternyata sangat jauh dari ekspektasi terhadap 6Mix. Tapi apa? Mereka sukses di industri KPOP yang super ketat itu. Bahkan disebut sebagai penolong bagi JYPE yang sempat dihina-hina.

Mungkin itu ada benarnya, tidak apa-apa. Aku juga akui mereka masih banyak kekurangan, mungkin dipaksakan cepat debut karena jadwal debut 6Mix yang semakin dekat saat itu. Tapi aku tetap percaya Twice akan terus belajar dan berkembang seiring waktu. Masalah lip sync dan sebagainya memang memalukan, MR Removed yang goyang-goyang suaranya, atau kesalahan koreografi, itu juga mungkin jadi kekurangan.

Kalau mau dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sebagian besar member Twice masih muda, masih ada yang bersekolah. Adalah pengorbanan besar buat bisa menjalani dua dunia sekaligus. Apalagi jadwal mereka sangat padat, lelah untuk terus bernyanyi mungkin ada. Meski dari sudut pandang profesinalisme, hal itu tetap bukan sebuah alasan.

Terus ngapain kalau gitu cepet-cepet debut? Berarti belum siap dong? Silahkan cermati cerita soal 6Mix tadi. Meski mungkin tercela dimata antifans #yaiyalah, tapi menurutku itu langkah terbaik untuk JYPE kembali mengokohkan diri. Sekarang yang buat sedih adalah kalau baca komentar negatif tentangmereka. Bukan karena kasihan-kasihan banget sama Twice, karena tokh mereka gak bakal baca juga, yang bikin sedih tuh justru karena miris dengan banyaknya kosakata negatif dan kasar yang digunakan oleh adik-adikku sebangsa dan setanahair yang ikut berkomentar.

Kalau hal sekecil ini –soal hiburan, mereka udah sekasar itu, bagaimana dengan masalah lain yang lebih esensial ya? Please, lebih bijak lagi dalam berkomentar. Aku gak bisa maksa buat suka atau gak suka, tapi aku pengen maksa soal bersopan santun. Biasa aja lah, selow.

Ketiga, Day6. Band ini adalah alasan terkuat kenapa aku masih percaya sama JYPE. Setelah tragedi keluarnya member dan kurangnya promosi, aku masih punya harapan Day6 bakal jadi besar. Kalau vokal adalah alasan utama banyak orang menilai seorang idol itu bertalenta atau tidak. Maka seharusnya sudah sejak dulu Day6 itu terkenal. Day6 adalah anomali dari semua hal yang biasanya JYPE lakukan. Dengan format band –yang tidak populer di Korea sana-, tanpa vokalis –karena semua membernya kecuali drummer bisa nyanyi-, mencipta lagu sendiri sejak awal debut –biasanya kepercayaan ini diberikan setelah beberapa kali mengeluarkan album-, dan mereka gak dipromosikan di acara musik sejak awal.

Soal yang terakhir, penyebabnya karena Day6 gak mau handsync. Di acara musik, boyband yang cuma dance lebih sederhana persiapannya dibandingin band yang harus bentang-gulung kabel plus check sound. Mana Day6 gak bisa kalau cuma satu microphone, karena mereka butuh empat sesuai jumlah member yang nyanyi. Kebayang kan ribetnya? Maka buat para band yang mau promo di acara musik, harus rela main interumentnya bohong-bohongan. Dan Day6 gak mau.

Mereka lebih sering busking dan live concert di club atau festival. Tapi cara gitu tetep gak bisa bikin Day6 dikenal banyak orang. Televisi tetep penting, sedangkan investasi JYPE buat bikin band itu gak sedikit. Maka mau gak mau, mulailah mereka masuk TV. Bahkan tahun ini, Day6 rilis lagu baru tiap bulan, asyik gak? Sampai bulan April ini, gak ada lagu mereka yang zonk. Bagus semua, asli.

Maka Day6 adalah salah satu penolong kalau ada yang mau menggeneralisasikan artis JYPE yang bervokal lemah, selain 2AM yang sekarang masih hiatus. Sebenarnya masih ada yang lains semacam, 15& – Park Jimin sama Baek Yerin, Baek Ayeon, G.Soul, dan Bernard Park. Meski soal me-manage mereka aku berharap JYPE terus belajar untuk memperbaiki diri. Nggak tampil di TV bukan berarti mereka gak kegiatan loh.

Terakhir, karena JYP punya pengaruh. Perusahaannya mungkin bukan yang terbesar, tapi andilnya bagi perkembangan KPOP sangatlah besar. Lagu Tell Me punya WG dulu tahun 2008 (atau 2009 ya?), dipromo sendiri oleh JYP di Youtube dengan mengunggah videonya yang sedang melakukan gerakan tarian lagu itu. Begitu juga Nobody, lagu yang udah bikin aku kenal sama Kpop dan juga mungkin gak asing bagi siapapun meski gak kenal KPop, adalah ciptaan dia. Saat itu Youtube belum se-booming sekarang, tapi dia udah maju selangkah buat memanfaatkannya sebagai media promosi.

Begitu juga dengan ambisinya membawa WG ke Amerika, menembus Hollywood. Walau banyak yang bilang itu gagal dan malah membuat WG kehilangan popularitas, but it’s amazing step, right? Itu adalah langkah berani yang bisa jadi pembelajaran besar, gak cuma bagi JYPE, tapi juga agensi lain yang juga pengen nembus pasar Amerika yang super ketat.

Disamping itu, meski gak langsung, JYP punya banyak peran bagi orang lain. Cube Ent, rumah bagi BTOB sama Hyuna, pemiliknya adalah mantan pegawai JYPE. Hyuna sendiri adalah mantan member WG kan. Begitu juga Big Hit Ent, rumahnya boyband yang lagi naik daun, BTS. Sang pendiri, yaitu Bang Sihyuk, adalah mantan penulis lagu di JYPE. 2AM juga dulu dititipkan disini sebelum akhirnya kembali diambil alih JYPE. Bahkan pas menang penghargaan sebagai Produser Terbaik, Bang Sihyuk menyebutkan nama JYP di pidato terima kasihnya. Terus ada Kim Soo Hyun, yang mulai masuk jajaran aktor papan atas berkat Dream High. Dia bahkan di trainee vokal di JYPE sebelum syuting.

Intinya, tulisan panjang lebar ini hanya ingin meng-update tulisanku sebelumnya. Poinnya sebenarnya masih sama, meski beberapa ada yang berubah konteksnya karena JYPE juga udah berubah. Aku bukan siapa-siapa JYPE, dan gak dapet keuntungan juga dengan buat tulisan ini. Gak ada jaminan juga JYPE akan selamanya baik. Tapi aku harap tulisan ini bisa membantu siapapun yang konsen sama musik KPOP buat melihat JYPE dan artisnya dengan cara yang beda.

Semoga bisa jadi bahan pertimbangan buat nulis komentar yang kurang enak, gak cuma buat JYPE, tapi buat siapapun. Karena selalu ada sudut pandang lain jika kita mau lebih bijak mencermati. Komentar jahat itu mungkin sekali posting, ketindih sama informasi lain, seolah-olah kayak udah hilang. Tapi sebenrnya kita tetap dimintain tanggung jawab loh suatu saat nanti. J

Selamat bermusik dengan lebih positif^^