Diposkan pada Belajar, Dari Buku

Mau Minjam Buku Materi Pokok Untuk Jurusan Ilmu Komunikasi?

Haaaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,,,, kamu mahasiswa UT jurusan Ilmu Komunikasi? Mau beli BMP tapi gak ada budget? Atau males buka perpustakaan digital? Mau beli BMP bekas tapi gak tahu juga abis itu mau dikemanain?

Diriku punya solusinya!

Duh, kalimat pembukaku gak nahan banget.

Jadi kenalin aku alumni S1 Ilmu Komunikasi UT tahun 2017 kemarin. Selama ngikutin perkuliahan aku ngandelin BMP karena gak ngambil tatap muka, jadi Alhamdulillah rezeki, BMP-ku lengkap: kecuali Pengantar Ilmu Ekonomi karena dicuri orang. Nah, daripada didiemin dan dibuka-buka lagi cuma kalau aku lagi insaf dari baca timeline twitter yang entah kapan. Jadi aku pengen minjemin BMP-nya buat siapapun yang membutuhkan.

Beberapa ada yang udah dipinjem, jadi aku buat daftarnya biar gampang:

Nomor

Nama Buku Materi Pokok Ketersediaan
1 Pengantar Sosiologi Dipinjam
2 Asas-Asas Manajemen Dipinjam
3 Pengantar Ilmu Ekonomi Tidak Ada
4 Sistem Hukum Indonesia Dipinjam
5 Logika Dipinjam
6 Pengantar Ilmu Politik Ada
7 Pengantar Statistik Sosial Dipinjam
8 Metode Penelitian Sosial Ada
9 Bahasa Inggris I Dipinjam
10 Pengantar Ilmu Komunikasi Dipinjam
11 Hubungan Masyarakat Dipinjam
12 Teori Komunikasi Ada
13 Sosiologi Komunikasi Massa Ada
14 Perencanaan Komunikasi Massa Ada
15 Sistem Komunikasi Indonesia Ada
16 Komunikasi Antar Pribadi Ada
17 Perencanaan Pesan dan Media Dipinjam
18 Komunikasi Massa Ada
19 Psikologi Komunikasi Ada
20 Komunikasi Antar Budaya Ada
21 Komunikasi Politik Ada
22 Opini Publik Ada
23 Perkembangan Teknologi Komunikasi Dipinjam
24 Filsafat dan Etika Komunikasi Dipinjam
25 Komunikasi Organisasi Ada
26 Teknik Mencari dan Menulis Berita Dipinjam
27 Komunikasi Bisnis Dipinjam
28 Perbandingan Sistem Komunikasi Ada
29 Komunikasi Internasional Dipinjam
30 Metode Penelitian Komunikasi Dipinjam
31 Analisis Sistem Informasi Ada
32 Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Ada
33 Bahasa Indonesia Dipinjam
34 Pendidikan Kewarganegaraan Ada
35 Cybermedia Ada
36 Teknik Hubungan Masyarakat Ada
37 Hukum Media Massa Ada
38 Produksi Media Dipinjam
39 Komunikasi Sosial Ada
40 Pendidikan Agama Islam Dipinjam
41 Bahasasa Inggris II Ada
42 Komunikasi Inovasi Ada
43 Manajemen Media Massa Dipinjam
44 Komunikasi Persuasif Ada
45 Manajemen Hubungan Masyarakat Dipinjam
46 Komunikasi Pemasaran Dipinjam
47 Public Speaking Ada

Nah, tinggal dilihat aja mana yang masih tersedia dan enggak. Insyaallah akan terus aku update setiap kali ada yang ngembaliin atau tiap akhir semester.

Tapi mohon maaf ya, karena ini bekas dan aku membacanya tidak dengan damai alias pindah-pindah menyesuaikan kegiatan: kadang di angkot, kadang sambil jalan, tiduran, nungguin lampu merah, dsb. Jadi emang beberapa ada yang kurang indah lagi bentukannya. Terutama yang halamannya ngalah-ngalahin kamus. Ya, kecuali yang sulit aku pahamin dan bukan matkul favorit sih biasanya masih bagus hehe. Terus banyak coret-coret buat nandain hal penting pakai spidol. Tes formatifnya juga udah aku isi.

Kalau itu gak masalah. Kamu boleh pinjam bukunya GRATIS tanpa syarat dan ketentuan. Tinggal kembaliin aja kalau kamu udah selesai semesteran. Mau ikut nanggung biaya pengiriman, mangga, Alhamdulillah. Kalau enggak juga gak apa-apa. Oke? Oke. Aku percaya anak UT baik-baik dan bertanggung jawab, apalagi anak komunikasi.

Yang berminat silahkan ngehubungin nomor wa-ku 083873879959.

 

Salam hangat dari alumni! #tjiengaku

 

Diposkan pada Abstrak, Sebuah Cerita

Hei, Aku Nulis Fanfiksi Lagi

Aaaaiiiihhh kangen betul sama blog ini T_T

Pengen diberesin biar gak ketahuan tulisan-tulisan jadulku yang gak berbobot macam tubuhku, tapi jumlahnya udah kebanyakan, Jadi ya, biarlah. Biarkan mereka jadi bagian dari perjalananku belajar nulis dari enam tahun lalu #udahlamabloginiteh. Tapi kalau nemu tulisan lamaku jangan dirundung, ya. Maklumin aja.

Apalagi kalau nemu postingan soal fanfiksi, udah diemin aja. Walau mungkin bikin malu, tapi sebenarnya mereka itu punya jasa yang gede banget. Fanfiksi adalah jalan pembuka aku untuk mulai pede nunjukin tulisan ke orang-orang. Sejak kecil aku selalu ngerasa malu dengan hasil tulisanku sendiri. Kayak ngapain sih gak penting kan gak bagus.

Tapi sejak mulai belajar nulis Fanfiksi, aku mulai terbiasa nunjukin ke orang-orang. Tahu respon pembaca, komentarnya, kritikannya. Dan itu MENYENANGKAN. Ya, walau efek sampingnya dari fanfiksi ini aku terjerumus ke dunia perkoreaan sampai sekarang, hahahahaha.

Kalau orang lain suka Korea dulu baru nulis fanfiksi, aku sebaliknya, wkwkwk.

Tapi, sejak dihantam kenyantaan hidup bertubi-tubi, aku berhenti nulis. Ya, nulis gaje di blog aja jarang kan sekarang. Boro-boro mimpi buat jadi penulis, mimpi bisa ngasilin tulisan aja syulit. Akhirnya, aku mau pengen nyobain lagi menstimulasi semangat nulisku dengan buat fanfiksi lagi.

Kali ini, biar gak barala di blog aku bikin akun Wattpad. Yuhu!

Silahkan yang mau lihat-lihat, bolehlah ditengok kesini: https://www.wattpad.com/user/meilindawandhani

Belum banyak tulisannya karena aku masih mulai pemanasan lagi. Doain semoga setelah satu seri fanfiksi selesai aku bisa ngelanjutin Hujan Dibalik Jendela lagi! –naskah yang harus selesai bulan Juli nanti karena itu udah ngendap seumur hidup cuy, udah dari SD aku punya idenya. 

Sampai jumpa disana ya! I love you (sama kamu yang mau baca)!

Diposkan pada Prosa, Tulisan

[Bukan Review] Nonton Stray Kids

Ini adalah latihan nulis kembali karena saya udah dua minggu terkena writer’s block. Biar gampang saya mau numpahin hal yang masih anget karena saya baru selesai nonton Stray Kids tadi malem. Kita lihat, apa saya berhasil menyelesaikan tulisan ini sekali jadi.

Oke, jadi Stray Kids itu acara survival show dari JYP Ent. buat boygroup mereka yang baru. Acaranya udah selesai dari Desember kemarin, tapi diriku baru punya daya upaya untuk mengunduh dan menontonnya secara maraton kemarin-kemarin.

Sebagai orang yang sering terlalu berlebihan dalam memikirkan sesuatu, mau gak mau acara ini mancing buat mikir kenceng. Terutama karena, yes, aku baper. Selalu gitu. Apalagi kalau ada yang relate sama kisah hidup atau pemikiranku. Secara harfiah anak-anak SK yang sembilan orang itu usianya jauh dibawah aku, aku berasa tante banget lah, kisaran lahiran 1997-2001 soalnya. Tapi, aku juga gak tiba-tiba seusia gini kan, aku juga pernah seumur mereka. Jadi, ya…

Skip.

Pertama, yang narik perhatian itu Bang Chan. Leader sekaligus otak dibalik Stray Kids. Pas lihat di MV Hellevator, aku sebenernya gak asing sama wajahnya. Disamping dia mirip sama artis ini-itu, ternyata aku emang pernah liat wajahnya pas kecil di poster trainee JYP bareng Got7 sama Day6. Ya ampun, dia udah gede!

Dan lebih ya ampun lagi karena kalau ditotalin, dia udah trainee 7 tahun. Dari pertama kali aku lihat poster itu aja, udah empat tahun yang lalu kayaknya. Dia setia, sabar, istiqomah pisan di JYPE 😦

Aku selalu sedih kalau inget Jihyo Twice, ini anak trainee-nya 10 tahun. Kalau dikira-kira, dia berarti masuk JYPE umur 8 tahunan. Jihyo ampe bilang kalau separuh hidup dia diinvestasikan buat bisa debut. Nah, ini ada lagi, Bang Chan. Walau gak selama Jihyo, tapi 7 tahun tetep gak sebentar. Apalagi dia orang Australia, jauh dari keluarga dari sekecil apa. Aku gak kebayang. Satu persatu temen-temennya debut duluan, terkenal duluan, sedangkan nasib dia gak jelas kapan. Terus temen-temen yang gak kuat training pada keluar, nyisain dia sendirian. Sampai trainee baru dateng, kenalan lagi, penyesuaian lagi, terus satu-persatu dia kumpulin(?) dan bisa jadi satu tim.

Gak kebayang, beneran. Apalagi karena usia udah lewat dua puluhan, tapi tetep gak jelas mau gimana. Sepanjang acara ini aku sedihnya lihat dia. Pas temen-temennya keeliminasi, dia yang nangis gak karuan. Temen-temennya yang salah di panggung, dia yang stres. Sedangkan dia harus tetep kelihatan kuat buat temen-temen lain yang masih tersisa.

Karena apa?

Karena dia pengen semua temen-temen yang dia pilih jadi tim itu debut bareng. Sembilan orang. JYPE gak ikut campur sama sekali sama trainee yang dipilih Bang Chan buat jadi temen satu grup dia. Dia sih bilang kalau dia milih orang-orang di timnya dengan hati. Kelihatan banget lah, surat dia di episode the 9th itu buktinya. Penantian dia selama tujuh tahun kebayar lunas karena bisa satu tim sama delapan orang di SK.

Tiba-tiba keinget istiqomah, sabar, tetep optimis buat mencapai mimpi #eaa. Ini serius. Vitamin semangat banget lah dia ini. Mungkin dia emang harus nunggu tujuh tahun biar bisa satu grup sama Minho yang gabung belakangan jadi trainee JYP. Mungkin dia emang harus nunggu tujuh tahun biar bisa nentuin nama grup sendiri, buat lagu sendiri dan temen segrup sendiri, lepas dari campur tangan JYPE. Bahkan belum debut aja, aku yakin pendapatan dia paling banyak setelah Mixtape rilis, wong dia paling banyak buat lagunya.

Semua selalu ada hikmahnya. Gak ada yang sia-sia.

Kedua3RACHA. Nah, sebelum SK, Bang Chan ini negebentuk 3RACHA sama dua member SK lain, Jisung dan Changbin. Mereka udah aktif buat lagu hip-hop sendiri, makannya pas di SK, mereka yang buat lagu dan nulis liriknya. Gila banget lah tiga orang ini, walau genre mereka hip-hop, tapi kalau disuruh nyanyi, suara mereka juga bagus.

Yang bikin terharu tuh, aku pernah baca thread di twitter soal perjalanan 3RACHA ini di salah satu web hip-hop di Korea. Jadi, di Korea sana tuh ada web khusus gitu buat yang suka genre hip-hop, nanti mereka ngeupload lagu-lagu yang udah dibuat biar bisa didengerin dan dapat feedback dari user lain.

Tahu gak? Ampe berbulan-bulan lagu yang mereka upload itu gak ada yang dengerin sama sekali. Paling ada satu-dua yang komen soal masalah teknis. Tapi mereka secara konsisten terus buat lagu dan nge-upload kesana tiap bulan. Pas di bulan tertentu mereka gak bisa upload, mereka bilang maaf karena lagi sibuk sekolah. Gusti 😥

Pernah, mungkin karena sebel gak pernah ada yang dengerin, mereka posting lagu mereka di forum gitu dan akhirnya disemprot sama user lain karena ‘ganggu’. Tapi sampai sekarang 3RACHA masih aktif buat lagu dan nge-upload di akun YouTube mereka.

Aku inget kata-kata Tere Liye, menulislah walaupun tidak ada yang membacanya. Itu dulu hiburan banget sih tiap kali habis nulis gak ada yang baca, hehe. Tapi tetep gak cukup kuat buat jadi tenaga aku untuk terus nulis. Makannya hebat lah anak-anak ini.

Oh ya, soal 3RACHA ini, aku masih mikirin sama kombinasi orang-orangnya. Bang Chan itu kelahiran 1997, Changbin 1999 dan Jisung 2000, tapi kok mereka bisa klop ya? #plak. Terus Jisung kayaknya gabung duluan karena trainingnya lebih lama dari Changbin, ngeh pas Jisung baca surat buat JYP, dia bilang pas ketemu Changbin dia ngerasa kesombongannya sebagai rapper memudar karena Changbin dirasa lebih bagus nge-rapnya. Nah, pas mereka sama anak SK, ya mereka berbaur aja gitu, gak keliatan kalau mereka bertiga lebih deket dibanding yang lain karena sama-sama di 3RACHA.

Ketigaorang tua Jeongin. Di episode berapa gitu, ada adegan si bungsu Jeongin nelepon ibu sama bapaknya. Percakapan mereka lucu. Cerita Ibunya yang nonton SK di TV dan sebel sama JYP nge-kritik Jeongin, ayahnya yang nanyain masih ada bekel uang gak?, terus mereka nasihatin buat patuh sama member lain yang udah kayak kakak sendiri.

Adem banget hati ini. Apalagi pas lihat ekspresi Jeongin yang unyu-unyu berbunga-bunga. Dia bilang, orang yang paling dia percayai di dunia itu adalah kedua orang tuanya.

Cuy, konon dia baru kelas satu SMA. Umur internasional dia belum genap 17 tahun. Aku gak tahu dia training berapa lama, tapi ortunya suportif banget ngelepas bayinya ke ibukota, sekolah sampai pindah karena sibuk jadi trainee, tinggal di dorm bagi kamar sama member lain, latihan ampe tengah malem bagi waktu sama sekolah, nonton anaknya dikritik sana-sini dibilang kayak amatiran.

It’s wow, just… wow.

Seni itu gak ada ukurannya. Walau ada teorinya, tapi bagus-tidaknya karya seni itu ukurannya tetep pakai hati. Gak pasti. Karena gak pasti itulah karir di bidang seni itu bukan zona terbaik buat ngelepas anak. Tapi orang tua Jeongin ini luar biasa lah, mungkin mereka punya faktor dan variabel lain yang mempengaruhi keputusan mereka mendukung si buah hati jadi artis #ealahapasih. Karena gak semua orang tua berani dan mau mendukung anak-anaknya main dengan ketidakpastian.

Keempat alias terakhirtakdir. Sebenernya ini pemikiran lama sih, tapi aku mau sambungin aja disini. Kalau baca/nonton/denger cerita idol pas mereka trainee itu bener-bener bikin aku takjub sama skenario Allah buat tiap makhluknya. Ya, trainee mah contoh kecil aja.

Gini, ada yang harus trainee 10 tahun jadi satu grup bareng temennya yang baru trainee 1 tahun. Yang satu ngehabisin waktunya buat training dan yang satu bisa melakukan hal lebih banyak terlebih dulu.

Ada yang jadi trainee setelah menang di acara kompetisi nyanyi dan berakhir satu grup sama trainee yang ikut di kompetisi nyanyi yang sama tapi kalah. Contoh Junho 2PM, dia pemenang pertama Superstar-K (lupa acaranya, pokoknya itulah) dan pada akhirnya satu grup sama Taecyeon dan Chansung yang juga peserta Superstar-K tapi keeliminasi, setelah ketiganya jadi trainee JYP.

Ada yang jadi trainee di agensi tertentu, udah lama, usia udah lumayan, tapi karena gak bisa debut akhirnya pindah atau keluar. Pada akhirnya debut di agensi lain dan harus manggil sunbaenim/senior sama temen-temennya yang udah debut duluan.

Yang lebih lucu, ya Day6. Mereka beneran nunggu Dowoon gabung doang buat bisa debut karena mereka butuh drummer. Secara harfiah Dowoon gak training sama sekali. Dia di audisi bulan Mei, masuk JYP, ikut manggung sama Day6, terus debut September.

Tiap orang punya cerita dan jalan masing-masing buat bisa ada di tempat yang sama. Suka takjub aja sama cara Allah mengatur kehidupan.

Ah, udah ya selesai. Ternyata aku berhasil menulis ini selama satu jam setengah. Lumayan. Selanjutnya aku harus comeback untuk menulis ke hal yang lebih faedah.

Bye~

 

P.S.

Mixtape-nya Stray Kids enak-enak lagunya, dengeran deh.

Diposkan pada Prosa, Tulisan

Menyoal Bunuh Diri dan Kesehatan Mental

Dari kemarin, dan mungkin untuk beberapa hari kedepan, beranda sosial media milikku berduka setelah Jonghyun Shinee diberitakan meninggal dunia.

Kaget? Tentu aja, karena Jonghyun masih muda. Umur dia masih 27 tahun. Aku mungkin bukan fans sehingga gak ngikutin aktivitas dia. Tapi Jonghyun ikut bagian dalam kenangan masa putih abu dulu. Debut tahun 2008 bareng Shinee, Jonghyun jadi ikut seangkatan sama grup yang bikin aku suka sama musik korea: 2PM dan 2AM. Aku pernah juga jadiin karakter di fanfiksi, aku pernah suka banget sama lagunya yang berjudul Obsession, aku pernah nonton reality show dia Hello Baby Shinee bareng temen pas kita nginep. Lalu dia makin mantap kemampuan musikalitasnya, dia mampu mencipta lagu untuk penyanyi lain dan aku suka banget sama lagu Breathe-nya dia yang dinyanyiin Lee Hi.

Kenanganku sebatas itu. Tapi aku tetep ngerasa kehilangan. Apalagi setelah tahu penyebab kematian dia.

Apa? Bunuh diri.

Lagi-lagi ketipu. Dengan kesuksesan dia, dengan mampunya dia menghibur di atas panggung, dengan senyumnya dia, dengan banyaknya fans dia. Karena berkali-kali aku muji Shinee, sebagai angkatan tahun 2008 yang masih aktif dan dipromosikan dengan baik –jika dibandingkan dengan 2AM atau 2PM yang vakum-. Tapi ternyata dia kosong dan kesepian.

Surat terakhir dia sebelum bunuh diri itu sedih banget, dia bertarung sama sesuatu yang gak kelihatan di dalam dirinya, dia capek, dia lelah, dan akhirnya menyerah.

Ok, jika kesedihannya cuma sampai disini aja, aku gak bakal kegelitik buat nulis sesuatu. Tapi ternyata ada hal lain yang bikin aku miris dan akhirnya memutuskan untuk menuang unek-unek: komentar netizen Indonesia menanggapi masalah ini.

Kata-kata mereka jahat banget dan gak pantes diucapkan untuk sebuah berita duka. Dan itu menjadi cerminan kalau kita –masyarakat Indonesia- masih kurang bisa memahami mengenai kesehatan mental.

Baik, aku paham kalau tuntutan dunia hiburan di Korea jauh lebih berat banding disini. Salah sedikit bisa beneran gak muncul lagi di TV, persaingan ketat, sistem training yang berat, membuat tekanan menjadi luar biasa. Dan yes, aku juga tahu kalau mayoritas masyarakatnya gak memiliki agama. Semua seolah jadi resep yang pas untuk akhirnya membuat Korea Selatan termasuk ke dalam negara dengan angka kejadian bunuh diri yang tinggi.

Tapi, tapi… mau kah kita mencoba menilik dari sisi lain? Saya tahu bahwa Islam melarang keras bunuh diri, karena itu seakan tidak menysukuri hidup yang sudah Allah berikan. Beberapa hak dari jenazah yang meninggal karena bunuh diri juga ditiadakan. Belum dengan dalil yang mengatakan tentang apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya bagi mereka yang melakukan bunuh diri.

Saya tahu, dan itu benar-benar menakutkan. Tapi kenapa masih saja ada yang melakukan bunuh diri? Meskipun dia Islam? Meskipun dia sudah paham mengenai hal tersebut? Jangankan di Korea sana, di Ciamis, kota kecil di ujung Jawa Barat juga ada yang bunuh diri. Bukan kotanya, tapi di desa nan terpencil yang susah aksesnya. Gak tanggung-tanggung, seorang Kepala Sekolah, muslim dan sudah melaksanakan rukun Islam ke lima alias naik haji.

Lalu kenapa? Bunuh diri seolah menjadi tinggal satu-satunya jalan yang tersisa meskipun sudah diketahui konsekuensinya? Bukan hanya soal agama, sangsi sosial juga tetap akan berlaku sangat kejam bukan?

Orang yang bunuh diri –siapapun itu- adalah korban. Bunuh diri, apapun caranya, pasti menyakiti diri sendiri. Sakit, pasti. Tapi rasa sakit itu seolah tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit jika tetap melanjutkan hidup. Terbayang? Itu artinya alasan dia, beban dia, begitu besar.

Daripada menyalahkan korban-nya, saya lebih senang mempertanyakan significant other atau orang-orang sekitarnya, orang-orang yang korban anggap dekat. Tahukan mereka mengenai permasalahan korban? Langkah apa yang sudah mereka lakukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan itu? Apa pandangan mereka mengenai kondisi mental korban?

Begini, penyakit mental sama beratnya dengan penyakit fisik. Malah bisa lebih berat karena orang-orang disekitar tidak menyadari adanya penyakit itu dan tetap menganggap si penderita itu baik-baik saja. Penyakit mental itu banyak, depresi, OCD, Bipolar, shizophrenia, dll. Mereka gak kelihatan, gak sama kayak kanker, asma, panu, eksim, kurap, dll yang bisa kamu lihat bentukannya.

Itulah kenapa saat si penderita penyakit mental mengeluh, apa coba yang orang-orang ucapkan?

Gitu doang sedih, banyak yang masalahnya lebih berat dari kamu biasa aja tuh.

Baperan sih lo.

Dan yang lebih parah, kamu kesurupan kali, tanda-tanda kurang iman tuh.

Lalu gimana mereka mau cerita dan berbagi beban jika tanggapannya kayak gitu? Alhasil ditengah miliyaran manusia di dunia mereka tetep ngerasa sendirian. Setelah dia struggling dengan masalahnya, lalu cerita ditanggapi dengan sepele sama orang-orang, eh, pas akhirnya memilih bunuh diri tetep diketawain juga. Hei, sebenernya yang sakit siapa sih?

Masalah yang sama bisa ditanggapin beda sama tiap orang. Besar enggaknya masalah bukan diukur sama kita orang luar, tapi sama yang ngalamin masalahnya sendiri.

Dari dulu aku sebenernya konsen banget sama masalah mental, penyebabnya, aku tahu gimana sakit-nya. Aku tahu gimana nangis sendirian di kamar mandi karena gak bisa cerita sama siapa-siapa, aku tahu gimana rasanya benci banget sama diri sendiri cuma karena akuntansi. Sepele banget kan? Itulah kenapa aku gak mau cerita sama siapapun, karena ujung-ujungnya ya bakal diremehin.

Aku bisa cerita sekarang dengan mudah karena aku ngerasa masalah itu udah selesai, aku udah bisa ngetawain diri aku sendiri di waktu itu yang seharian di Mesjid pas besok mau UAS akuntansi karena aku gak ngerti-ngerti buat jurnal umum.

Aku tahu rasanya teralienisasi, ngerasa aneh, ngerasa beda, ngerasa bener-bener sendirian pas di perkumpulan yang jelas-jelas lagi banyak orang. Semua orang kayak fade dan slow motion aja (istilah editing, maaf, wkwk). Sampai aku ngerasa kalau aku itu punya bipolar disorder (walaupun ternyata bukan, aku ngaku-ngaku aja, karena ternyata itu ada kaitannya sama tipe kepribadianku yang INFJ. Lain kali aku mau bahas soal INFJ ini).

Tapi anggapan aku punya bipolar itu memberi hikmah buat aku,  waktu kuliah di Jakarta dulu, aku sering ikutan seminar psikologi. Gak peduli dimana aku ikutin, walaupun dulu kayak ngerasa salah kamar karena diselenggarain di Perguruan Tinggi Teologi –tapi itu cuma masalah tempat, karena pembahannya ya murni soal psikologi-

Salah satu seminar yang berkesan adalah soal perubahan mood ekstrim yang diselenggarakan oleh salah satu komunitas. Aku inget pas datang disambut Mbak-Mbak cantik berkurudung lebar, dia jadi panitia di meja pendaftaran dan begitu ramah menyambut peserta lain. Begitu sesi tanya jawab dimulai yang diisi oleh seorang psikiater, Mbak ini tunjuk tangan, dan cerita soal bipolar yang beberapa tahun ini dia derita. Denger ceritanya aku ngerasa ketipu sama senyumramah Mbak tadi, karena ternyata dibalik itu si Mbak punya kisah yang sedih banget. Bipolar dia udah sampai pada titik berhalusinasi, dia udah sampai pada tahap minum obat-obatan untuk nanganin perubahaan mood dia. Karena itu ganggu banget, kamu terlalu senang dan terlalu sedih di waktu yang singkat, mengganggu sama aktivitas dan kerjaan juga.

Tapi begitu ia cerita buat minta tolong sama orang tuanya, apa coba? Mbaknya dimarahin karena dianggap kurang iman dan bikin jin ganggu dia. Mbaknya pengen konsul ke psikiater, tapi mereka gak mau karena nganggap itu bikin malu. Emangnya kamu gila apa?! Karena emang orang tua Mbak-nya juga shock, mereka gak siap jika anak mereka punya sesuatu yang dianggap bikin malu di tengah masyarakat.

Mbaknya ini kalem banget loh, tipe akhwat idaman, dia juga cerita muncul halusinasi tuh pas dia bangun buat salat tahajjud. Kayaknya nuduh kurang iman tuh sadis banget. Tapi ya itulah, efek domino dari kurang pahamnya lingkungan sosial kita sama kesehatan mental, bikin penderitanya malu buat cerita, pas udah cerita malah dihina karena takut pandangan sosialnya.

Padahal apa coba? Mereka cuma pengen didengerin.

Udah.

Itulah kenapa orang-orang yang bisa mendengarkan punya catatan sendiri di hati aku sebagai orang yang penting dan layak untuk dihargai lebih. Aku belajar ilmu komunikasi sebagai harapan bisa jadi pendengar yang baik. Karena orang yang bisa bicara dengan memukai belum tentu bisa jadi pendengar yang sama memukaunya, mencoba menahan diri untuk tidak berbicara sebelum lawan bicara selesai, berempati, menemukan respon yang tepat itu adalah hal yang gak mudah.

Kalau ada yang curhat apalagi yang kelihatan memiliki tanda-tanda depresi dan penyakit mental lainnya, cobalah dekati, dengarkan apa yang menjadi beban dia, gak usah terburu-buru menilai apalagi sepele enggaknya masalah yang sedang dia hadapi. Cukup, cukup jadi pendengar dan berusaha untuk mengerti jika kita ada di posisi dia. Seolah kamu punya level toleransi yang sama dan kemudian baru mencari solusi dengan tetap menempatkan diri sebagai dia. Selalu beri pujian yang layak, buktikan kamu siap hadir buat dia. Usahakan agar dia tetap optimis memandang waktu yang akan datang.

Kalau kamu adalah survivor, selalu inget kalau aku salut sama kamu. Gak sembarang orang Tuhan pilih untuk diberi ujian seperti itu. Tetap optimis, jangan lepasin orang-orang yang bisa ngerti kamu. Kalau kamu muslim, coba makin tingkatkan diri pendekatannya sama Allah. Kalau udah dekat, makin deketin lagi, maksimalin lagi. Allah adalah pendengar yang baik, aku udah buktiin itu berkali-kali. Dia gak pernah nge-judge aku dan beneran punya solusi terbaik. Inget kamu gak pernah sendirian, Allah selalu bareng-bareng kamu. Saat gak ada orang yang muji kamu atau sekedar bilang good job, selamat kamu udah ngelakuinnya dengan baik, gak apa-apa, kamu coba bilang itu sama diri sendiri. Selalu kasih penghargaan, selalu rangkul kekurangan kamu.

Semoga lingkungan sosial kita perlahan bisa berubah, lebih arif, lebih bijak dalam berkomentar dan berucap. Karena kita pada dasarnya sama, kita adalah khalifah dengan ujiannya masing-masing. Gak usahlah mengungkapkan penilaian buruk hanya untuk membuat kita seolah-olah lebih baik. Walauhualam, semua hanya Allah yang mengetahuinya.

Jadi, kalau ada orang didekatmu yang bunuh diri, jangan dulu keburu ngetawain dia loser dan berdosa deh. Jangan-jangan, jangan-jangan nih ya, kamu juga ikut andil didalamnya. Bisa karena kamu yang jadi beban bagi dia atau kamu gak mau ikut bantuin dia saat dia minta bantuan.

Diposkan pada Belajar, Sebuah Cerita

Gerilya : Sebuah Catatan Perkuliahan di Universitas Terbuka

Nama: Meilinda Rizky Putri Wandhani

Pekerjaan:

Mmm… pekerjaan?

Pekerjaan: Mahasiswa

Mahasiswa, aku suka pekerjaan itu. Maka setelah hampir tiga tahun setelah di wisuda, aku masih menuliskannya sebagai pekerjaan jika menulis formulir atau biodata apapun.

Lagipula aku tidak bohong.

Aku masih mahasiswa, hanya tak terlihat ngampusnya saja. Tak terlihat gedung kampusnya, kelasnya, dosennya.

Kuliah di Universitas Terbuka (UT) memang unik, dan membutuhkan kalimat efektif efisien yang berbeda dengan biasanya saat ditanya kuliah dimana? Karena tak semua orang tahu UT. Malah saat heboh kasus kampus bodong itu, orang-orang pada heboh ngobrolin UT, karena… ya… mahasiswanya ada tapi gak ada kampusnya.

Sayangnya menjelaskan UT itu gak mudah, dia bukan cuma kuliah online atau belajar jarak jauh. Ada banyak perbedaan dan keistimewaan dibanding universitas konvensional yang hanya bisa dirasakan saat kamu menjadi bagian dari UT langsung.

Jadi, aku akan membantu mengambarkan dengan mengurai cerita, mungkin saja ini bisa membantu untuk memberi penerangan ditengah stigma yang ada.  

Aku masuk UT pada Januari 2014 atau masa registrasi 2014.1. Dari sini saja UT sudah berbeda dengan Perguruan Tinggi lain, karena dia membuka pendaftara dua tahun sekali, yaitu pada awal (biasanya Januari) dan pertengahan tahun (biasanya Juli). Aku memilih program Non-Pendas alias non-keguruan dan Non-SIPAS atau tanpa paket. Jika yang mau kuliah di UT dengan rasa yang lebih konvensional, bisa memilih SIPAS. Per semesternya sudah ditentukan dengan lengkap, jadi mahasiswa tinggal cus ngikutin. Dengan memilih paket Non-SIPAS, maka semua terserah aku. Mau ambil berapa SKS per semester, mau ada tatap muka atau enggak, mau berapa tahun selesainya, pokoknya terserah, semua diprogram sendiri, yang penting tetep bisa menunjang proses pembelajaran.

Aku lalu memilih program studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) -Dulu pas daftar masih FISIP, belum ada jurusan hukum-.

Saat mendaftar di UT, usiaku 21 tahun. Mungkin terlalu tua untuk daftar program S1 dengan menggunakan ijazah SMK. Tapi sebenarnya, statusku saat itu adalah mahasiswa semester enam di sebuah Akademi kedinasan. Dan gak ada batasan usia saat kamu mendaftar atau keluar di UT. Gak peduli berapapun usiamu, dan walaupun kamu lelet menyelesaikan kuliah kamu, kamu gak akan pernah di Drop-Out. Asal kamu kuat aja buat nyelesein kuliah.

Memulai semua dari nol saat kamu hampir selesai itu gak mudah. Ijazah SMK-ku adalah untuk jurusan Teknik Komputer Jaringan, pertama ia aku gunakan untuk belajar Manajemen Pemasaran di akademi, lalu kemudian aku gunakan lagi untuk menyebrang ke dunia ilmu sosial di UT. Banyak orang yang bilang sayang: buang tenaga, buang uang, buang waktu.

Dan itu benar. Hanya jika materi yang jadi ukurannya. Dan itu benar, hanya jika kamu tidak pernah merasakan pedihnya jadi ikan yang merasa bodoh karena tak bisa terbang setelah mempelajari berkali-kali.

Semester pertama, aku mengambil 18 SKS atau 6 mata kuliah secara acak. Ada yang mata kuliah untuk semester 6, semester 7, semester 3, seenaknya aja. Aku memilih mata kuliah yang kelihatannya seru dan bisa aku tangani dengan usaha minim, mengingat saat aku juga sedang menghadapi tugas akhir. Maka semester itu diisi tutorial online beserta tugas-tugasnya saat aku sedang praktik penyuluhan dan riset rencana usaha. Bahkan minggu-minggu UAS berada diantara jadwal bimbingan laporan penyuluhan. Aku takjub sendiri kalau inget masa-masa itu.

Karena saat UAS berarti saatnya keliling kota. Jarak UPBJJ (Unit Pelayanan Belajar Jarak Jauh) Jakarta di Rawamangun jelas jauh dengan kos-kosanku di Jagakarsa. Perlu perjalanan empat jam dengan busway untuk mengurus keperluan akademik selama lima menit (catatan: dulu belum ada transportasi online dan belum ada cetak Kartu Ujian online). Jadi total delapan jam jika langsung kembali ke kosan. Belum lagi mencari lokasi UAS-nya yang berpindah-pindah. Lokasi UAS pertamaku adalah di UNJ dan yang kedua di salah satu SMP(atau SMK?) di Jatinegara. Asyiknya(?), ada mata kuliah yang jam ujiannya adalah jam pertama alias pukul 7 pagi, jika terlambat, kamu gak bakal bisa masuk.

Aku cerita sedikit soal UAS ini dulu.
Jadi, di  UT gak ada UTS, tapi langsung UAS. Tugas tiap dua minggu sekali lewat Tutorial Online menurutku udah cukup bikin pening kepala. Karena gak ada gedung kampusnya, setiap UAS, UT bekerja sama dengan berbagai instansi untuk mengadakan Ujian, biasanya sekolah/kampus. Kamu bisa milih mau ujian di daerah mana saat kamu daftar. Tapi di instansi mana persisnya, itu akan tercetak di Kartu Ujian atau KTPU (Kartu Tanda Peserta Ujian). Di KTPU juga udah jelas jadwal pelaksanaan, nomor ruangan dan nomor duduk kamu.

Maka secara ajaib kamu yang berasal dari penjuru daerah manapun, akan bisa duduk buat ujian dengan soal dan lembar jawaban yang udah dicantumi nama kamu dengan tepat. Karena walau satu kelas bisa diisi dua puluh orang, kamu belum tentu bisa ketemu sama yang satu fakultas, satu jurusan, atau satu semester. Karena kalaupun itu sama, belum tentu saat itu kamu lagi menghadapi mata kuliah yang sama. Seperti waktu UAS pertamaku waktu itu, berhubung mata kuliahku acak-acak seenaknya, lembar soalku adalah Penelitian Sosial, sedangkan yang lain adalah Ilmu Pengetahuan Agama Islam, walaupun kami sama-sama semester satu.

UAS tiap semester hanya dilaksanakan dua hari di hari Minggu, jadi gak bakal ngeganggu yang kuliah sambil kerja. Konsekuensinya, satu hari Ujian bisa berisi sampai lima mata kuliah. Full dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore. Aku pernah ngalamin ini loh, asli, bisa juga ngerasain muak sama buku.

Ok, kembali ke cerita saat aku UAS pertama kalinya dan harus masuk jam 7 di UNJ. Malemnya sehabis Isya aku langsung tidur, walaupun gak ngantuk, maksa aja. Berusaha gak kegoda ikut nimbrung ngobrolin soal bimbingan laporan penyuluhan temen-teman sekosan. Besoknya begitu adzan Subuh aku langsung berangkat, setengah lima dari kosan dan masih sempet-sempetnya baca modul dibawah penerangan angkot yang ngegoda buat tidur lagi. Karena ya, harus aku akui kalau kuliah sambil kuliah bikin aku keteteran baca modul. Begitu waktu UAS, masih banyak materi yang belum kebaca. Bad for me.

Oh ya, modul ini adalah alat bantu buat belajar para mahasiswa UT. Kamu bisa akses di ruang belajar virtual atau beli buku fisiknya lewat TBO Karunika (toko buku online milik UT). Tapi bagi aku, modul ini adalah bahan belajar utama. Aku gak punya waktu (dan kurang usaha juga) buat nyari materi lain di ruang belajar online UT atau media lain semacam radio/siaran televisinya. Jadi ya mau gak mau modul-modul itu udah jadi soulmate tiap semester, pengganti Dosen lah. Kemana-mana dibawa terus, ada waktu nganggur dikit lanjut baca. Apalagi kalau tebal modulnya gak kira-kira, bisa bikin kamus bermilyar kata minder. Jadi butuh waktu lama buat nyeleseinnya.
Waktu empat bulan kayaknya lama dan bisa cukup buat nyelesein, tapi kalau matkul yang kamu ambil satu semester itu ada delapan dan semua modulnya seserem itu? Bye.

November 2014. UAS semester kedua tempatnya kembali di daerah Utan Kayu Rawamangun sama salah satu daerah di Jakarta Timur. Kali ini acaranya berbarengan dengan wisuda di akademi. Maka aku harus merelakan gak ikut acara perpisahan dengan temen-temen di akademi dan ngekos sendiri di daerah Utan Kayu biar gak kesiangan saat UAS.

Sehari setelah UAS minggu pertama, aku wisuda. Dan saat itu aku masih sempetin bawa-bawa modul UT buat ujian di minggu kedua. Dan ujian itu adalah ujian terakhir aku di UPBJJ Jakarta. Karena setelahnya aku memohon ijin pindah ke UPBJJ Bandung. Aku udah gak tinggal di Jakarta setelah perkuliahan di akademi selesai, tapi meski begitu, kuliah di UT masih bisa jalan terus.

2015.1.
Aku masuk semester tiga, kali ini di UPBJJ yang berbeda dan tantangan yang berbeda. Aku mulai masuk kerja, dan… wow, ternyata aku lebih milih buat kuliah sambil kuliah dibanding kuliah sambil kerja. Bawa buku kemana-mana sambil ke lapangan, ngerjain tugas sambil jadi operator presentasi, nyuri-nyuri baca buku ditengah gaduh peserta pelatihan, bawa laptop saat nginep pelatihan buat ikut tutorial online, sampai nangkring di food court dengan tumpukan buku buat tuton demi wifi gratis saat uang honor gak turun. Mungkin kelihatan biasa aja, tapi semua itu diselipi stigma negatif lingkungan sekitar, rasa malu, rasa minder, takut ngelanggar etika, dsb dsb. Belajar di foodcourt dengan full musik dan riuh orang-orang itu rasanya gila loh. Apalagi di semester ini aku mulai ngambil matkul maksimal alias 8 matkul atau 24 SKS. Self management itu penting banget beneran, dan jujur sampai akhir aku belum bisa dengan serius ngejalananinya, jadi tiap mau UAS tetep keteteran baca modul. 

Padahal pernah loh, saat aku pergi ke belahan bumi lain yang beda zona waktunya, koperku isinya cuma modul, sama printilan lain yang bukan baju. Semua pakaian aku masukin ransel saking gak muat disana. Dilema sih, kalau gak bawa, aku perginya lumayan lama, jadi aku bakal ketinggalan tuton dan materi banyak kalau gak bawa mereka(?).

Di semester empat, 2015.2. Aku nyobain ngajuin beasiswa PPA ke UT. Alhamdulillah diterima. Sempet was-was sih karena muncul nilai C. Karena… yes, matkul Logika itu sulit, bukunya tebel, dan aku harus membagi pikiran dengan 7 matkul lain di waktu yang mepet. Aku dibuatin rekening sama UT dan uang PPA-nya ditransfer setelah aku konfirmasi ke UPBJJ. Alhamdulillah :’)

Beruntung, kali ini tempat ujiannya gak pindah-pindah dan gak terlalu jauh -walau jauh juga sih-. Tapi disini aku bisa pakai kendaraan sendiri dan ngebut dikit kalau kira-kira bakal kesiangan. Selain itu udah mulai ada cetak kartu ujian online, walau saat di semester ini aku masih manual pergi ke Tasik khususon cuma buat ngambil KTPU doang.

Di semester lima, 2016.1. Aku ternyata masih dapet rejeki beasiswa PPA. Tapi rasa jenuh mulai datang menyerang. Rasanya pengen libur dulu. Capek. Dengan kuliah tanpa tenaga tapi matkul tetep full 24 SKS, maka nilai C datang menghampiri lagi.

Di semester enam, 2016.2. Semua matkul inti tinggal beberapa, sebenarnya kalau mau bisa aja aku nyelesein semua dengan alih kredit beberapa matkul umum yang udah dipelajari di akademi. Tapi aku mutusin buat ambil lagi aja semuanya, karena matkul umum macam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PAI, dsb, yang aku ambil di akademi ternyata cuma 2 SKS, sedangkan di UT 3 SKS. Jadi, ya udahlah. Aku ambil lagi. Semester ini gak akan aku lupain karena jadi momen aku suka sama BTS aku drop sebawah-bawahnya.

Aku kehilangan laptop di bus sepulangnya aku dari Jakarta. Uniknya, si pencuri gak cuma ambil laptop, tapi juga buku Pengantar Ekonomi yang lagi aku baca. Padahal itu belum aku baca semua dan UAS tinggal seminggu lagi. Alhasil, ditengah kesedihan (haha) aku mulai ngerangkum lagi semua materi (satu buku penuh) lewat Ruang Baca Virtual UT ditemani lagu-lagu BTS. Tapi asli loh, lagu Young Forever itu ngingetin aku sama momen dimana aku lagi ngerangkum di belasan lembar HVS sambil sedih-sedih ria mengenang masa muda, wkwk. Karena, yes, kata-kata di pikiran tentang “kamu udah 23 tahun dan kamu kehilangan banyak kesempatan karena belum nyelesein studi” itu terus menghantui di saat galau. Coba kamu langsung di jalan ini, gak usah bulak-belok, gak usah kesana-kemari, daaannn sebagainya. Tapi terus lagu itu bilang, selamanya kamu jadi anak muda, meskipun kamu jatuh dan melukai diri sendiri, kamu harus terus belari menuju impianmu. 

Kebetulan? Kayaknya enggak.

Akhirnya, 2017.1. Semester 7. Aku bisa ngambil Tugas Akhir Program ditambah beberapa matkul umum yang belum aku selesein. Kali ini aku udah gak kerja dan mutusin buat fokus buat Karya Ilmiah sambil ngelamar part time (tapi aku gak dapet, mungkin emang beneran harus fokus tuh beneran fokus). Terilhami apa yang aku alami di semester sebelumnya, aku mutusin ngangkat tema soal lirik lagu BTS jadi Karya Ilmiah, haha. Tapi aku gak fangirling-an loh, itu asli ilmiah dan aku berusaha objektif ngelihat lirik lagu berbahasa Korea yang mencoba mengomunikasikan sesuatu ke pendengar lagunya.

Tapi itu berhasil.

Maksudku, kamu gak paham bahasa Korea tapi kamu bisa ngerasain apa yang sedang dicoba buat dikomunikasikan sama isi lagu itu. Yup, musik adalah bahasa universal, tapi aku lebih nyorotin ke liriknya, dan bingkai dalam sudut pandang komunikasi antarbudaya. Seriusan, aku gak pernah se-enjoy itu nulis sesuatu yang berat macam Karya Ilmiah. Sampai orang-orang taunya aku pusing karena soal ujian masuk BPJS daripada lagi nulis tugas akhir.

Nah, ini bedanya lagi di UT. Kamu gak skripsian. Gantinya, kamu harus nulis Karya Ilmiah yang peraturannya disesuaikan dengan jurusan masing-masing. Kalau udah, tinggal unggah di situs UT. Karya Ilmiah itu ngasih bobot ke nilai kelulusan barengan sama TAP atau Tugas Akhir Program. Karena aku ngambil TAP sambil kuliah juga, maka sebelum TAP aku tetep UAS kayak biasanya. Ngebut banget lah.

TAP lalu dilaksanakan sebulan -atau dua minggu ya- kemudian. TAP itu semacam ujian komprehensif. Tapi gak teoritis, kamu dikasih soal berbentuk studi kasus, dan kamu harus mecahin studi kasus itu dengan teori-teori yang udah kamu pelajari selama kuliah. Jadi kamu tahu ilmu yang kamu pelajari itu aplikasinya kayak apa di kehidupan nyata. Berhubung aku mempelajari ilmu sosial, sebenernya ngelogikainnya lebih mudah sih. Cuma kalau kamu jawab cuma pakai logika tanpa teori yang memadai, tetep aja nilainya jelek. Seingatku, saat TAP, cuma aku yang close book, karena ternyata aku sendirian dari Ilmu Komunikasi, huhuhu.

Dan kesendirian ini tetep berlangsung sampai aku wisuda kemarin. Aku satu-satunya dari Ilmu Komunikasi dari UPBJJ Bandung yang wisuda di UT Pusat.

Sebenarnya soal wisuda ini aku merasa butuh tulisan berbeda, tapi aku gak yakin bisa memenuhi niat itu atau enggak, jadi ayo selesaikan sekarang juga.

Soal wisuda di UT juga berbeda. Hanya karena UT gak ada gedung kampusnya, banyak orang yang gak ngeh soal keberadaan Perguruan Tinggi ini. Padahal mahasiswanya sangat banyak, di seluruh Indonesia dan juga beberapa negara lain macam Arab Saudi, Hongkong, Taiwan sampai Korea Selatan. Megakampus disebutnya juga. Makanya dalam setahun UT bisa ngadain wisuda sampai empat kali.

Dan yah… gratis. Aku gak bohong. Aku aja kaget. Wisudanya gak bayar. Di LIP-nya 0 rupiah. Dibilangnya udah dibayar pas masa pendaftaran. Padahal seingatku pas daftar aku cuma bayar buat SKS. Gak ada uang pendaftaran, gak ada uang bangunan (lah gak ada gedung kampusnya), gak ada uang lain-lain. Paling beli baju almamater doang. Dan padahal yang lain, biaya per SKS-nya itu murah banget loh, seriusan. Cek aja dan bandingin sama di Perguruan Tinggi lain. Paling mahal aja 41.000 (gak tahu kalau sekarang naik)/sks. Jadi kalau mau ambil satu matkul dengan 3 SKS, kamu cuma bayar 123rb. Dengan 123 ribu maka kamu udah bisa jadi mahasiswa UT, nak. Mungkin karena memang tujuan UT sebagai pendidikan tinggi jarak jauh adalah menjangkau siapa saja yang mau terus belajar tanpa batasan geografis.

Wisuda bagi mahasiswa UT yang kepanggil buat wisuda di UT Pusat punya banyak arti. Pertama, bisa lihat gedung UT yang super gede dan megah. Akhirnya bisa lihat gedung akademik fakultas yang bertingkat-tingkat, gedung rektor yang menjulang, gedung wisma UT yang ngalah-ngalahin hotel, gedung convention center yang super memadai. Semua jadi berasa wah-nya, karena kita kebiasa numpang di gedung orang lain buat ujian.

Apa coba yang mancing perhatian? Mesjidnya. Dia ada di paling depan deket parkiran, terasnya luas dan tiap tiang ada stop contact-nya. Tiap tiang pasti ada ‘pemilik’nya, mereka yang lagi duduk nyender sambil nge-charge hp, wkwk. Pengertian banget. Seakan tahu kalau orang-orang yang datang dari berbagai daerah buat ikut acara wisuda itu bisa dateng jam berapa aja. Jadi bisa nunggu disana dengan nyaman.

Kedua, kita akhirnya bisa ngelihat langsung wajah Rektor, Dekan, Dosen, Staf UT yang selama ini cuma kelihat foto sama kebaca namanya doang. Juga, bisa ketemu langsung sama mahasiswa lain yang cakupannya lebih luas dari sekedar pas UAS. Karena mereka diundang dari semua UPBJJ seluruh Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri.

Ketiga, bisa ngerasain ‘kuliah’ untuk pertama dan terakhir kalinya di gedung sendiri. Mungkin ini gak bisa relate ke semuanya ya. Karena bagi yang suka TTM alias kuliah tatap muka, mereka udah biasa. Tapi bagi aku yang cuma lewat tutorial online, acara seminar sehari sebelum wisuda itu berkesan lah. Aku juga salut loh UT ngadain seminar sehari sebelum wisuda, disebutnya sebagai pembekalan buat wisudawan. Asyik ya. Gratis lagi.

Keempat, aku bisa langsung dapet Ijazah. Ini adalah pembeda terbesar dan paling aku syukuri. Kalau di kampus lain wisuda hanya sekedar seremoni, di UT adalah sebenar-benarnya ‘perpisahan’. Semua hal yang pernah diceritain ibuku soal wisuda UT akhirnya bisa aku lihat langsung. Walau aku sempet heboh karena teledor gak bawa nomor foto, ternyata panitianya tetep nyusurin ke barisan wisudawan buat nanya siapa yang belum dapat nomor. Berhubung kita gak saling kenal dan jumlah wisudawan super banyak (kalau gak salah waktu di UT Pusat itu 1300 orang, belum yang di wisuda di UPBJJ masing-masing) jadi foto akan dicocokan berdasarkan nomor. Aku gak tahu ini nasibnya gimana karena nomornya beda wkwkwk.

Dan, acara wisudanya asik banget. Gak ngebosenin. Pas kamu masuk ke UTCC, di tiap kursi udah ada tas berisi air minum dan snack, jadi kamu gak bakalan kelaparan. Buat selingan acara pemanggilan wisudawan untuk bersalaman dengan Rektor(?), ada hiburan dari paduan suara sampai muter video testimoni yang direkam saat gladi bersih. Lucu karena nampilin banyak ekspresi wisudawan yang aneh-aneh. Seru lah. Belum lagi nyanyi-nyanyi barengnya. Nah, pas kita baris buat dikasih selamat sama Rektor itu kita bakal jalan dulu ke lobi UTCC, disana kita bakal dikasih amplop cokelat berisi ijazah, transkrip nilai dan legalisirnya. Jangan tanya gimana sigapnya para panitia buat ngejaga barisan ratusan orang biat tetep sesuai urutan. Karena sekali lagi, kita gak saling kenal dan semua hal sudah ditentukan sesuai urutan. Habis dibagi ijazah kita bakal difoto dan kemudian masuk kembali buat ke podium.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, kegiatan wisuda kemarin itu keren lah pokoknya. Live Streaming juga. Semua orang bisa nonton (dan ngedonlod).

Maka setelah sekian panjang tulisan ini, setelah tujuh semester, setelah tiga tahun enam bulan, setelah acara wisuda yang menyenangkan, aku sampai juga di titik ini. Menghadapi kenyataan bahwa ada banyak hal yang harus dikerjakan. Masih banyak hal yang harus dihadapi. Masih banyak hal yang harus dijalani.

Termasuk janji untuk menerapkan belajar mandiri sepanjang hayat.

Meski ya, aku sudah tak bisa lagi menuliskan mahasiswa di kolom pekerjaan lagi.

 

=Tulisan ini tanpa proofreading, maaf segala saltik dan kalimat tidak efektif. Semua foto adalah foto di lokasi UT Pusat di Pondok Cabe, Tangerang Selatan=

 

Belajar bukan status dan bentuk fisik lain yang bisa terlihat. Ia adalah sebuah proses yang akan berbentuk pada akhirnya.

Diposkan pada Abstrak

Harapan

Where there is hope, there are trials.

Kalau dilihat lagi, kalimat itu kalau diartikan berarti dimana ada harapan, disana ada percobaan-percobaan. Kalimat pertama sebelum koma bentuknya singular, sedangkan kedua plural. Itu berarti harapan yang dibutuhkan cuma satu, untuk bisa menghasilkan sekian banyak percobaan.

Harapan. Satu hal yang tak ingin aku ajak berteman baik sejak dulu. Karena aku takut hal menyakitkan akan terasa jika ia tidak terjadi. Aku ingin terjadi tak terjadi rasanya sama saja.

So emotionless? Maybe.

Nyatanya disangkal bagaimana juga, hati punya caranya sendiri untuk mengundang harapan. Persis seperti antibodi yang bisa dihasilkan sendiri oleh tubuh untuk mengalahkan virus penyakit yang datang. Karena, hei, siapa yang tahu kita akan jadi apa besok? Apa yang akan terjadi setelah ini? Memang apa yang menggerakan kita menyetel alarm untuk pagi hari sebelum kita tidur? Bukankah kita tak pernah tahu apa kita akan terbangun lagi? Ya, dia si harapan itu. Dia bilang, siapa tahu pagi akan kembali datang, memberikan hari yang lebih baik. Sehingga kita bisa melewati gelapnya malam dengan tenang.

Tapi, entahlah. Aku masih dalam masa mengumpulkan puzzle diri yang berantakan disana-sini pasca terjatuh berkali-kali. Jadi semua yang terjadi memang terasa membingungkan, aku tak tahu lagi apa nama perasaan yang mengikuti suatu kejadian. Aku jadi sering kebingungan dengan emosi yang aku tunjukan, tawa keras tidak berarti aku sedang bahagia, banyak bicara juga tidak berarti aku sedang bersemangat.

Sayangnya, tidak semua orang punya pengetahuan jangan pernah menilai seseorang jika kau tak pernah mencoba berjalan dengan sepatunya. Sesungguhnya 2 + 2 = 4 itu hanya ada di matematika, dalam kehidupan satu premis ditambah premis lain tetap bisa menghasilkan konklusi yang tak terduga. Bahkan diluar logika. Maka selagi aku sibuk menata puzzle diri, terkadang semua kembali acak terhambur karena penilaian orang-orang terhadap topeng yang aku tunjukan.

Memang aku terlalu naif, dan diam. Tapi dalam komunikasi, diam juga adalah bentuk komunikasi. Hanya tong kosong yang nyaring bunyinya, kalau dia diam, itu karena dia penuh. Terlepas apa saja yang memenuhinya, benar atau salah, baik atau buruk, menyenangkan atau menyakitkan, harapan atau rasa putus asa.

 

(quote di atas adalah potongan lirik dari lagu BTS berjudul Sea.)

Diposkan pada Sebuah Cerita

[REVIEW] Agust D Mixtape

fluorescéine

agust-d

Yay akhirnya Suga!!!!!

Emang y Bighit setelah ngasih tau Suga mo ngerilis album terus menghilang gaada kabar gaada teaser tetiba ngeluarin album, mv, soundcloud, semuanya dikeluarin!! Anyway bingung gak kenapa ku heboh bgt ma Suga hahahahahahah there’s something yang bikin Suga jadi top 3 di BTS listku. Ntar deh aku bikin post nya y. SKIP balik lagi.

Jadi anday sangar banget ya mas agus ini tapi tetep <3. Agust D comes from DT and Suga (dibalik). DT means Daegu Town. Ya inti nya gitu deh Suga from Daegu Town lah emang ni anak ya bener2. Agust D juga nama waktu dia masih di underground rapper gitu. Ekspetasi aku masih sub unit sih but it’s ok laah paling juga bentaran lagi bts comeback wkwkwkw.

Mixtape nya….asli ngeri wkw. I mean he’s Suga. Yang keseharian nya diem, diem, ngeliatin, ga banyak omong, doesn’t give a fck a sht, dia ngeluarin semuanya yang…

Lihat pos aslinya 499 kata lagi

Diposkan pada Abstrak, Resensi Buku, Sebuah Cerita

[Resensi] Sebuah Fanfiksi

Aku benar-benar menunggu trigger yang luar biasa untuk kembali menulis. Tapi beberapa kejadian luar biasa lewat begitu saja tanpa sanggup menarikku untuk menuliskan sesuatu. Bahkan untuk sekedar abstrak atau kata-kata mengeluh.

Hingga akhirnya pagi ini, untuk pertama kalinya aku menangis karena membaca fanfiksi.

Aku terbilang susah untuk menangisi drama, film juga hanya beberapa, begitu juga untuk buku. Apalagi fanfiksi. Yang ditulis oleh seorang penggemar tanpa maksud komersil dan (mungkin) tanpa proses editing siapapun selain dirinya sendiri.

Tapi pagi ini, aku betulan menangis karena membaca sebuah fanfiksi.

Sebenarnya aku ada niat untuk meresensi fanfiksi ini, draft tulisannya udah ada. Tapi aku terlalu banyak pertimbangan untuk melanjutkannya. Terutama karena fanfiksi ini mengandung nilai yang gak akan diterima oleh masyarakat luas. Aku terlalu berat untuk menunjukan diri kalau aku baca fanfiksi itu, tapi juga terlalu berat untuk menyimpan semua apresiasiku sendiri.

Dan karena itulah, aku memutuskan untuk tidak menuliskan judul atau pengarangnya (resensi macam apa ini). Karena aku tidak akan sepenuhnya meresensi, setelah dibaca mungkin ini jatuhnya akan jadi curhat. Lagipula fanfiksinya masih on going alias belum tamat. Sebenarnya aku menyesal udah membacanya duluan sehingga aku harus menunggu dan menunggu kapan fanfiksi ini akan update. #tariknafas

Dan aku juga menyesal karena fanfiksi ini ngasih impact padaku.

Awalnya aku agak mengelak tentang adanya impact ini, dengan bilang kalau semua kesan yang ditinggalkan itu karena gaya penulisan dan deskripsi yang apik dari penulisnya. Juga ceritanya, mungkin. Tapi, setelah hari ini, sepertinya aku harus menerima jika cerita ini punya dampak karena tokoh yang diceritakan punya karakter sama denganku.

Kesamaannya bukan dari fisik, tapi dari sifat, pemikiran, tindak tanduk, membuat keputusan, perasaan. Semuanya.
Sehingga setiap kejadian yang menimpa si tokoh, keputusan yang diambilnya itu akan sama jika aku juga berada di posisi yang sama.

Cerita fanfiksi ini sebenarnya typical drama. Tapi yang aku salut, penulisnya cukup fokus dengan sisi psikologis tokoh. Sifat penokohannya pun konsisten, mungkin karena basisnya dari orang di dunia nyata. Berlatar di kalangan konglomerat, fanfiksi ini bererita tentang seseorang yang menjadi keturunan tunggal keluarga kaya (A) yang kemudian melakukan pernikahan kontrak dengan B.
Satu tahun. Dan setelah pernikahan itu harus selesai.
JIka pernah nonton Full House, mungkin sekilah ceritanya mirip. Tapi kedua tokohnya punya kisah sedih di masa lalu, jadi gak akan sepenuhnya unyu-unyu.
Yang paling aku salut adalah, karakter A dan B ternyata sama dengan Mark dan Indah. Dua tokoh fiksi yang aku rencanakan bakal muncul di naskah novel yang entah kapan selesainya: Hujan Dibalik Jendela. Bedanya, aku gak pernah merealisasikan tulisan, sedangan penulis fanfiksi ini berhasil. Bahkan dia juga berhasil membuat pengembangan cerita yang baik dari kedua karakter ini.

A punya trauma di masa kecil yang membuatnya memutuskan untuk mengisolasi diri dan tak mau bergantung dengan siapapun. Itulah kenapa dia menolak untuk menikah, karena baginya itu berarti dia akan bergantung dan akan kehilangan lagi. Perasaan kehilangan dan ditinggalkan itu membuat A tumbuh menjadi orang yang keras dan dingin. Penggambaran bagian ini yang membuat aku salut, A tahu ia marah, tapi A tahu bahwa kemarahannya tidak berguna. Dia tahu tak seorang pun pantas untuk mendapatkan kemarahannya.

Sedangkan B sedikit jauh lebih kuat, meskipun jalan ceritanya agak sedikit lebih pelik. Tapi semua kesulitan membuat B punya banyak mimpi dan harapan. Namun mimpi itu seakan berubah saat ia harus menikah dengan A.
A dan B punya sifat yang jauh berbeda, namun sebenarnya sama. Mereka sama-sama punya rahasia, sama-sama punya luka, sama-sama sulit mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Karena itulah pengembangan perasaan mereka membuat cerita jadi gak biasa. Cara mereka memberikan perhatian, cemburu, dan ingin melindungi. Misalnya saja A yang pecinta berat kopi tiba-tiba menyimpan sekotak teh celup di lemari dapur karena tahu B sangat suka dengan teh. Atau B yang mengungkapkan perasaannya dengan menggunakan bahasa asing sehingga A harus mencari-cari apa artinya.

Belum lagi keluarga dan teman sekeliling mereka yang berhasil membuat cerita semakin seru. Teman A yang heboh dan menjadi jembatan yang baik bagi B. Adik B yang galak dan membuat hubungannya dengan A menjadi love-hate relationship. Teman kecil B yang membuat A cemburu. Sepupu A yang heboh dan juga menjadi jembatan yang baik bagi B. Nenek dan Bibi A yang gaul dan menyenangkan. Semuanya diracik apik membangun cerita antara A dan B sehingga seru untuk diikuti.

Ah, andai fanfiksi ini lebih ramah nilai, mungkin aku akan menyarankan banyak orang membacanya. Karena diksinya pun luar biasa. 

Diposkan pada Sebuah Cerita, Versus

OPEN LETTER TO MYSELF

Introvert, awalnya aku menganggapnya sebagai kelemahan. Karena ia menyebabkanku terjebak dengan banyak kesulitan yang disebabkan oleh diriku sendiri, tak nyaman dengan banyak orang, sulit untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, beban dan masalah begitu sulit untuk dibagikan, tak mampu untuk menunjukan kemampuan diri, aneh, merasa terasing, dianggap pemurung, yeah I totally not interesting person.

Istilah introvert sudah aku kenal sejak bangku sekolah, penyebabnya karena aku sadar bahwa ada yang aneh dengan diriku. Aku punya banyak sekali pemikiran dalam kepala, tapi saat harus diutarakan, dia hanya bisa berbentuk satu dua kalimat yang berantakan dan sungguh tidak keren. Bahkan seringnya dia harus aku telan begitu saja.

Entahlah dari mana awalnya, mungkin dari buku pengembangan diri yang aku baca saat putih-biru. Aku pinjam berbulan-bulan untuk aku tulisi dan kemudian menghapusinya sebelum dikembalikan. Yang aku ingat dari buku itu adalah diagram pertemanan. Saat itu kelasku memang begitu dramatis dengan sekian belas murid akrab masalah. Dari mulai sekedar minuman keras hingga pertengkaran jambak rambut ala sinteron. Sehingga, aku menempatkan diriku di lingkaran paling jauh dari siapapun dalam diagram. Aku memilih satu dua teman yang aku anggap bisa aku ajak sedikit berbagi untuk diletakan di lingkaran yang agak dekat.

Sisanya, aku sendirian. Semuanya. Bukan hanya artian fisik, tapi juga psikis.

Pemahaman tentang introvert agak meningkat sekaligus mengabur saat putih abu. Aku bersekolah di sekolah yang mayoritas adalah siswa laki-laki. Tiba-tiba saja kekompakan dan kebersamaan menjadi nilai yang diagungkan untuk siswa perempuan karena jumlahnya yang sedikit. Ada ikatan yang dipaksakan namun kemudian hidup diantara siswa perempuan. Maka kemudian aku mulai terbiasa dengan bersama-sama. Juga menjadi perhatian, juga bicara.
Meski untuk yang terakhir itu tak berhubungan dengan apa yang sebenarnya aku rasakan. Karena tampil di depan umum sebenarnya sudah menjadi paradoks tersendiri bagiku, memang benar aku malu dan harus menghancurkan dinding tebal yang kubangun sendiri untuk melakukannya. Tapi sejak sekolah menengah pertama pun ternyata aku sudah sering melakukannya, dari sekedar story telling dengan blank sekian menit didepan juri hingga membaca puisi diatas panggung.

Maka di sekolah menengah atas, hal itu kemudian terjadi lagi. Aku pernah menjadi pembawa acara dadakan acara agustusan, hingga kampanye pemilihan ketua OSIS disaksikan guru dan siswa satu sekolah yang sembilan puluh persennya adalah laki-laki dengan celetukan-celetukannya yang membuatmu terlihat bodoh. Bahkan lelucon kampanye itu tetap hidup selama berbulan-bulan dan terus diulang seperti musik latar setiap kali aku lewat di koridor sekolah.

Aku baik-baik saja, dan aku bisa melewati semua itu tanpa masalah. Aku bisa menyelesaikan setiap kegiatan public speaking itu, terlepas berhasil atau gagal, terlepas menjadi lelucon atau tidak.

Tapi untuk mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, aku masih payah. Aku bahkan tak mengatakan pada siapapun di rumah bahwa besok aku akan kampanye didepan orang banyak sebagai satu-satunya kandidat perempuan. Aku pun tak bisa mengatakan pada siapapun betapa menyebalkannya melihat wajah dan namaku terpampang disetiap sudut sekolah sebagai salah satu kandidat ketua OSIS. Juga betapa menyedihkannya aku saat lelucon-lelucon itu terlontar. Hei, bahkan aku tak bisa menolak saat semua orang di satu jurusanku mendorongku untuk mencalonkan diri. Saat itu sebenarnya aku merasa seperti didorong ke jurang, tapi aku tak cukup pintar untuk membela diri.

Maka kemudian aku sadar bahwa introvert tak selalu mereka yang menghindari perhatian publik.

Masuk bangku perguruan tinggi, semua yang terjadi lebih kompleks dari sekedar foto yang tersebar di sudut sekolah. Aku memang kuliah, tak penah bolos. Bahkan untuk mata kuliah yang paling membuatku merasa kerdil sekalipun. Kehidupanku biasa saja, aku bahkan masih menonton video KPop untuk menghibur diri.

Tapi, sebenarnya aku punya konflik luar biasa dengan diirku. Sampai-sampai aku menganggap diriku memiliki bipolar disorder, dengan episode depression dan manic yang sangat ekstrim. Semua pemikiran itu mungkin sedikit tergambar disini. Karena blog ini aku buat sejak SMK, niat awalnya muncul karena ucapan seorang guru. “Menulislah sesuatu yang baik di internet, barangkali itu bisa jadi amal jariyah.” Meski apa yang aku tulis kemudian tak semuanya berguna, ia lebih banyak berperan sebagai tembok pendengar yang siap mendengarkan cerita apa saja tanpa peduli betapa njelimet-nya ucapanku.

Karena anggapan itu aku mulai menyadari ketertarikanku pada psikologi. Aku sering mengikuti seminar bertemakan kejiwaan(?) dan berpergian sendirian keliling ibukota dengan busway. Aku suka perjalanan, meski sendirian, meski tak ada tujuan yang jelas. Perjalanan itu sama dengan seminar piskologi yang aku ikuti: memberikan ‘sesuatu’ padaku. Meski ‘sesuatu’ itu sekedar rasa haru saat mendengar adzan magribh ketika menunggu kopaja di terminal Blok M. Jika sedikit beruntung, aku akan bertemu orang asing yang baik, menawarkan payung saat hujan, menunjukan jalan saat tersesat, menawarkan tempat duduk saat lelah di angkutan umum. Bagiku itu adalah pelajaran berharga yang tak bisa aku dapat di perkuliahan.

Hingga tentang bipolar itu, aku sadar kalau aku tak bisa menyimpulkannya sendiri tanpa pemeriksaan dari psikiater. Dan aku bisa meyakinkan diri bahwa aku tak memilikinya. Sebagai hikmahnya, anggapan itu memaksaku punya ilmu lebih untuk mengenali diri sendiri dan juga orang lain.

Memang benar, manusia terlalu kompleks untuk dikotak-kotakan menjadi introvert dan ekstrovert. Keduanya hanya ukuran untuk mengukur kecenderungan dan memahami pola perilaku yang bisa kita tunjukan.

Karena itulah, aku kemudian tahu jika aku tidaklah aneh.

Introvert mungkin seperti tak banyak –karena mereka bersembunyi-, tapi ada begitu banyak tokoh dunia yang biasa ada di buku-buku pelajaran ternyata adalah seorang introvert. Bahkan dari tes MBTI (Myers-Birggs Type Indicator, psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan) – aku mencobanya dua kali saat kuliah di web berbahasa inggris dan satu kali di web berbahasa Indonesia beberahapa hari yang lalu. Dan hasilnya tetap sama: INFJ, aku menemukan ada banyak tokoh yang juga bertipe sama denganku, dari mulai Plato, Carl Gustav Jung, Nicole Kidaman, Martin Luther King, Jr., Nelson Mandela hingga Adolf Hitler (tapi percayalah aku tak sekejam itu xD).

Oh ya, beberapa hari yang lalu juga BTS dalam event Festa-nya menyertakan hasil tes MBTI tiap anggota, dan seperti dugaanku, mereka didominasi oleh introvert –meski melenceng satu orang, aku pikir ada lima orang, ternyata hanya empat. Tiga diantaranya bahkan satu tipe.

Namjoon, sang leader. Hobi baca buku, IQ lebih tinggi dari Albert Eintein. Fasih berbahasa inggris dengan otodidak. Bisa menemukan diksi untuk rap freestyle dengan baik. Ucapan dan lirik buatannya juga penuh filosofi. Mengaku tak memiliki banyak teman dan terkadang sering terlihat seperti ‘hilang’ saat berada di kerumunan. Sering diprotes karena hanya mendengarkan musik dan memisahkan diri.

Yoongi, anggota yang seumuran denganku. Kepribadiannya terbentuk kuat karena pengalaman hidup. Lirik yang ia buat sebagian besar adalah tentang kehidupannya. Disegani, sulit mengungkapkan perasaan, menunjukan perhatian diam-diam, bicara apa adanya, malas kemana-mana bahkan hanya untuk keluar kamar, menyukai fotografi dan sering mempublikasikan hasil fotonya sendiri, tidak suka keramaian, dan sering bangun pagi buta untuk membuat lagu dengan alasan sepi.

Seokjin, anggota tertua. Dewasa, canggung, tulus, tak bisa dibedakan saat ia marah betulan dan tidak, mungkin dia terlihat narsis tapi aku merasa itu hanya untuk menutupi hal yang ia anggap sebuah kelemahan, akhir-akhir ini jadi banyak melawak tapi itu tak mencerminkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Aku merasa tuduhan sebagai anggota modal-tampang dan tekanan untuk bisa menyanyi lebih membuatnya terpengaruh. Mudah berbaur namun sangat memilih orang yang ia bisa percaya dan menjadi tempatnya berbagi mengenai hal yang sebenarnya ia rasakan.

Jungkook, anggota paling muda. Bisa melakukan hal apapun dengan baik, karena masih dalam masa pertumbuhan(?) sebenarnya sikap dia paling banyak berubah-ubah, tapi dia tak pernah mengeluh, cenderung memendam perasaan, hobi fotografi dan main game, sikapnya sangat berbeda saat didepan orang-orang yang ia anggap dekat dan saat ada orang yang agak asing. Mungkin jika ada yang pernah melihat video saat ia pertama kali masuk SMA, bisa terlihat bagaimana ia menjaga jarak dan tak mau berkomunikasi dengan teman-teman dikanan kirinya. Berkali-kali pun dia bilang jika ia tak punya teman, hingga di satu acara yang mengharuskan para idol kelahiran 97 perform, ia mengaku mulai dekat dengan beberapa teman idol yang seumuran.

Jika ada yang tahu, mungkin bisa membandingkan keempatnya dengan tiga orang lain yang berkepribadian ekstrovert: Hoseok, Jimin, dan Taehyung. Bandingkan keterbukaan mereka, cara menunjukan perasaan dan perhatian, atau mudahnya mereka berteman dengan siapa saja. Bagaimana mereka menunjukan kemampuan diri dan mendapat energi karena ada diantara banyak orang.

Maka poinnya, Mei. Apa kau sudah menemukannya?

Surat ini adalah satu dari sekian banyak surat yang kau tulis untuk dirimu sendiri dan kau putuskan untuk dibagikan di blog ini. Bisa terbaca oleh orang lain yang bahkan tak mengenalmu. Bisa terbaca bahkan jika nanti kau sudah meninggal dunia.

Tentang kehidupan ini…

Ah, mari kita menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Kau terlalu sering memikirkannya. Hingga lupa untuk tak tertawa saat mendengar masalah orang lain yang kau anggap kecil. Rasa syukur dan empati, adalah dua hal yang tengah kau bangun bukan?

Kau tahu tentang kesementaraan. Juga tentang bagaimana Allah dan segala kemahaaNya. Hanya terkadang kau memang lupa, dan semoga tulisan ini bisa mengingatkanmu lagi. Ayo jalani hidup dengan lebih baik dan positif. Perjalanan yang sudah kau lewati mungkin terlihat sangat panjang, tapi sebenarnya sebentar saja.

Diposkan pada Abstrak, Sebuah Cerita

Rezeki

Dua ribu dua ratus rupiah, adalah jumlah pendapatan pertamaku hasil berdagang permen karet dan makanan ringan lain. Saat aku duduk di kelas lima SD. Saat perjalanan pulang, aku terus memandangi uang-uang itu, dan meyakinkan diri bahwa aku tidak akan pernah melupakan mereka.

Aku tidak punya bakat berdagang sebenarnya, aku melakukannya karena paksaan ibu. Sebagai orang pemalu dan pendiam, menawarkan seseorang untuk membeli daganganku nyaris mustahil. Lebih dari itu, matematiku payahnya gak ketulungan. Ngasih kembalian atau menghitung penjualan itu susah sekali. Tapi hei, hari itu, ternyata aku punya uang sendiri.

Sampai lulus SD aku masih membawa dagangan ke Sekolah –ke dalam kelas lebih khususnya. Jenisnya beda-beda, dari makanan ringan macam makaroni hingga buah manggu yang super berat. Alasannya, kadang-kadang kakekku sebagai penyuplai barang minta tolong untuk dijualkan. Kalau sudah begitu, kadang buah-buah itu busuk karena tak terjual. Beban dalam benakku lebih berat daripada kresek dagangan yang ku bawa. Aku tidak pandai berdagang, sungguh.

Tapi saat itu ada mini market buka di dekat sekolah, ia langsung terkenal karena saat itu konsep swalayan belum pernah ada. Setiap istirahat, banyak teman-teman yang beli es krim kesana. Uh, bukan es krim kacang hijau seratus-dua ratus dalam plastik unyil, tapi itu punya merk.  Rasanya pun sudah tentu, pasti –atau mungkin- sangat enak. Karena tertarik, maka sekali waktu aku ikut rombongan ikut ke mini market. Saking kampungannya, aku gak baca harga es krim dan langsung menuju kasir.

Beruntung teman-teman yang lain sudah meninggalkanku sendirian saat itu. Karena yang terjadi adalah, harga es krim itu jelas lebih mahal dari yang aku perkirakan. Kasir sudah men-scan barcode dan meunggu pembayaran. Sedangkan aku hanya bengong, karena meskipun uang sakuku masih utuh hari itu –seribu rupiah- tetap saja tak akan bisa menebus es krim menggoda itu. Maka dengan polosnya, aku bertanya pada kasir, bolehkah aku membayar setengah harga dulu dan melunasinya besok.

Ah.

Jelas aja Mbak Kasirnya geleng kepala. Maka dengan sedih hati aku bilang aku gak jadi beli es krim itu dan mengembalikannya sendiri. Karena malu, aku lalu mengambil sebuah minuman serbuk sachet dan bilang jadinya akan membeli itu. Perkiraanku benar, harga minuman serbuk itu jelas lebih murah dari uang yang aku punya. Aku pun berhasil membawa pulang sang minuman itu dan bertingkah seolah tak ada kejadian bodoh didepan teman-teman yang sedang menikmati es krimnya.

Maka uang dua ribu dua ratus itu membawa banyak arti bagiku.

Semasa SMP aku tak berdagang lagi. Malu, you know ngasih kembalian lama banget itu rasanya bodoh. Tapi entah bagaimana aku mulai bisa membeli barang pribadiku sendiri, dari mulai sabun muka, sampo, mencicil kertas HVS setiap pulang sekolah untuk mencetak naskah di rumah, hingga mengeposkan naskah sendiri ke penerbit. Uang sakuku dua ribu saat kelas satu, dan tak berubah banyak hingga aku lulus sekolah.

Masuk SMK aku mulai punya telepon genggam sendiri. Ibu memberitahu sebuah counter yang mau menerima penjual pulsa dengan sistem setoran, bukan deposit. Maka meski counter-nya jauh banget, dua kali naik angkot, aku ya daftar juga.

Duh, bingungnya gak ada dua. Berhari-hari aku cuma isi pulsa untuk kepentingan pribadiku sendiri. Aku gak berani ngasih tahu teman-teman lain kalau aku jualan. Berbeda dengan dagang makanan yang kelihatan dagangannya. Kalau pulsa yang kasat mata itu jelas gak bisa ketahuan kalau aku sendiri yang bilang. Hingga aku mulai memberanikan diri nawarin ke teman paling deket. Teman-teman perempuan yang hanya ada enam orang di kelas. Tapi ajaib, aku gak akan pernah habis pikir sama prosesnya sampai semua teman sekelas tahu aku jual pulsa. Bahkan aku sampai pernah tertipu ratusan ribu oleh seorang kerabat teman dan harus melibatkan orang tua untuk menyelesaikannya.

Di kelas dua, seorang teman yang berbeda kelas bahkan ikut jual pulsa di kelasnya lalu menyetor uang padaku. Pun seorang teman dari teman SMP yang berbeda Sekolah, juga ikut berjualan pulsa di Sekolahnya dengan menyetor uang padaku. Padahal aku yang gak jago ngomong ini gak pernah promosi apa-apa. Serius.

Maka jadilah hampir tiap minggu aku menyetor ke counter, dua kali naik angkot untuk berangkat, jalan kaki sedikit, lalu naik angkutan umum sekali saat pulang. Saat itu uang sakuku sudah dibiasakan per bulan, jumlahnya tujuh puluh lima ribu. Kalau udah mulai menipis, uang pulsa itu kerasa banget berharganya.

Karena kuliah diluar daerah, aku terpaksa berpisah dari counter baik hati itu. Di Jakarta, aku harus hidup dengan uang saku sembilan ratus ribu empat puluh ribu per bulan. Saat itu aku sudah punya modem, uang saku ketika sudah dikurangi uang kosan dan perkiraan uang makan, harga pulsa modem rupanya lumayan mencekik. Karena terbiasa mengisi pulsa sendiri, rasanya sedih saat membeli pulsa ke counter. Akhirnya aku nekat daftar jual pulsa secara online dan deposit lewat ATM. Kalau tanggal tua dan di ATM gak bisa ditarik lagi, aku lalu daftar jual pulsa di counter deket Kampus. Berbulan-bulan aku cuma deposit sejumlah uang pulsa yang aku anggarkan. Aku gak niat jualan sama sekali, aku isi pulsa hape dan modemku sendiri. Tapi, ah. Gak tahu gimana temen-temen sekelas pada akhirnya tahu.

Kagok edankeun. Kalau di LDK atau Teater bakal kegiatan atau pementasan, dan (pasti) ada Dana Usahanya, aku selalu kebagian jualin kue-kue basah di kelas. Udah kayak warung berjalan temen-temen bilang. Karena akhirnya, walau di organisasi gak ada kegiatan, aku selalu beli sendiri kue basah itu. Lumayan jauh sih, dua kali naik angkot pulang-pergi, jadi harus berangkat pagi-pagi banget. Tapi kalau misalnya gak habis, ya lumayan bisa dimakan sendiri. Di ruginya pun, tetep kerasa kenyang.

Tapi aku mulai berpikiran aku mulai bisa berdagang?

No. Gak sama sekali. Aku lebih sering rugi sebenarnya, mau itu pas jualan pulsa atau jualan kue. Mau itu uangnya kepakai atau uang setoran yang pasti selalu kurang. I don’t know why. Aku sering banget nombok dan berakhir dengan ngabengberah sorangan. Bahkan dengan doktrin wirausaha yang aku dapat selama perkuliahan pun. Kenapa ya, kenapa. Aku lebih sering bingung kenapa aku gak bisa. Kalau ada yang perhatikan (tapi aku yakin gak ada), dalam setiap kegiatan bertema kewirausahaan atau pengembangan diri berbau kewirausahaan, aku gak pernah nulis apapun soal mimpi punya usaha yang besar. Kecuali karena ada tekanan sosial lihat teman-teman lain punya redaksi mimpi yang berhubungan perusahaan, aku ya kadang jadi masukin. Tapi gak pernah muluk-muluk.

Maju, Empati, Ikhlas, adalah singkatan dari namaku saat kegiatan CEFE. Maju untuk urusan dunia, Empati untuk kebaikan orang lain, dan Ikhlas untuk urusan akhiratku. Udah sih, gitu aja. Aku dikasih ilmu dan banyak teori tentang kewirausahaan selama perkuliahan. Pertanggungjawabannya berat jika aku gak mengamalkannya. Apalagi ada harapan negara bro, karena aku hidup tiga tahun dari uang rakyat. Jumlahnya lumayan buat memperbaiki infrastruktur di timur Indonesia.

Ah, kumaha atuh.

Pulang ke kampung halaman, menunggu wisuda ibuku mengajak ke tempat ia mengajar dulu. Lumayan pedalaman tapi masih kejangkau angkot walau lewatnya untung-untungan. Dia bilang disana ada pembuat keripik singkong yang enak. Kita lalu beli berapa kilo gitu terus ngebungkusin sendiri.

Ya Rabb, aku gak mungkin bilang kalau aku udah berapa kali perang dingin sama ibuku –juga sama diriku sendiri- selama urusan dagang berdagang keripik itu. Apalagi sampai dapat suplier deket rumah kakek, beuh… makin menjadi. Tapi ya karena aku udah bilang disini ya sudahlah, aku mengaku banyak dosa sama ibuku. Bahkan ibuku sampai gak habis pikir kenapa aku masih aja gak mau berwirausaha padahal udah dari kecil kebiasa dagang.

Tapi bagi an introvert person like me, di dorong buat berinteraksi dan bertemu orang baru itu butuh energi lebih. Karena aku udah bisa bawa kendaraan sendiri –walau nabrak-nabrak-, aku nyari banyak warung atau kantin buat diitipin barang dagangan. Kenyang banget lah ketemu ibu-ibu pedagang atau bapak penjaga kantin yang ramah banget sampai jutek banget. Selama menjalani kontrak di Dinas –karena kuliahku ikatan dinas- tiap minggu aku isi sambil keliling nitip sama ambil dagangan. Aku gak pernah promosi sekalipun, paling sesekali di media sosial dan kemudian tenggelam.  Setiap pulang kerja pun, walau capek banget, aku pakai buat ngebungkusin dagangan sambil nonton video Korea biar gak ngantuk, wkwk.

Tapi, hei. Aku ngerasa gak pernah gak punya uang.

Bahkan di saat honor telat datang atau keadaan dagangan yang sepi sekalipun. Seenggaknya aku masih reugreug karena punya tabungan. Lebih ajaibnya lagi, aku bisa ngasih kembalian dengan kecepatan yang lumayan. Walau kadang salah, but it’s okay.

Tapi kalau harus bilang aku kayak robot, aku gak keberatan. Aku melakukannya semuanya sejak awal sesuai perintah dan kepepet kebutuhan. Tapi apa aku bahagia berwirausaha?

Aku pernah ditertawakan karena menyandingkan kebahagiaan dengan relalitas. Nabi Muhammad adalah pedagang, tujuh dari sepuluh pintu rejeki berasal dari perniagaan. Indonesia butuh lebih banyak wirausaha juga, yes, I know. Aku bahkan mengulang-ngulang materi kewirausahaan kepada peserta pelatihan. Kita gak boleh miskin, kita harus kaya, ok, how can I wanna be a poor.

Tapi…

Apa saat ini aku masih berwirausaha?

Jawabannya masih. Apalagi sejak tidak bekerja dan kembali berstatus mahasiswa sepenuhnya. Aku masih jualan pulsa dan masih bungkus-bungkus makanan. Tapi, aku harus akui mereka begitu flat karena hatiku gak ikut disana.

Meski kemudian aku sadar, rejeki itu… ah, Allah. Allah yang kasih. Kalau dilihat dari satu sisi, aku bisa saja mengeluh. Tapi nyatanya, rejeki memang gak cuma soal uang. Aku yakin, berdagang dan wirausaha hanya soal jalan saja. Uang dua ribu dua ratus itu hanya jalan saja. Sehingga aku tahu bagaimana sulitnya orang tua mencari nafkah. Hei, saat kecil, aku berjualan di sekolah bukan karena aku pantas dikasihani. Keadaan orangtuaku cukup baik dan kami masih terjangkau untuk beli daging sebagai lauk.

Aku juga jadi belajar berhemat dan bersabar untuk memenuhi keinginan. Aku tak pernah berprinsip untuk tidak memberatkan orang tua dengan tak meminta uang lebih pada mereka. Tapi itu terjadi begitu saja, karena uang dua ribu dua ratus itu.

Aku juga jadi belajar membuka diri dengan teman-teman sebaya. Di SMK, aku terlalu sering mendengar humor anak laki-laki sehingga tanpa sadar mulai tertular. Jika bukan karena jualan pulsa, sebenarnya tak ada seorang pun punya alasan untuk mengirim SMS atau berinteraksi lebih. I’m not interesting person. Begitupun kue-kue basah untuk kegiatan Dana Usaha. Aku yang menangis payah sebelum Ujian Akuntansi ini bisa mulai belajar memisahkan uang pribadi dan uang setoran, menghitung uang recehan dan punya catatan meski acak-acakannya gak ada dua.

Dan tentu saja, mulai berdagang sendiri dengan re-packing adalah yang paling berkesan. Dia membuatku terkadang merasa tak mengenal diriku sendiri, dia membuatku memaksa diri untuk berusaha lebih keras dari biasanya, hingga membuat diriku sendiri takjub, hingga membuatku ingin menepuk punggungku sendiri dan mengatakan bahwa aku luar biasa. Sebenarnya aku punya self esteem yang rendah. Sejak kecil aku minderan dan itulah kenapa aku merasa lebih rendah dari orang lain. Aku bisa dengan cepat menulis semua kekurangan tapi waktu sangat lama untuk menulis kelebihan diri. Sering dibanding-bandingkan dan beberapa pengalaman traumatis penyebabnya. Tapi, tak usah diceritakan lah.

Bahkan, hei, aku bisa menjadi pembicara di depan orang banyak. Membahas tentang kewirausahaan yang sebenarnya sangat payah aku praktikan. Pikirku, jika aku tidak bisa menjadi wirausaha yang baik dengan ilmu yang aku miliki, maka mungkin aku bisa membuat orang lain yang melakukannya. Sebagai pembicara aku juga tidak tergolong baik sebenarnya. Karena lebih seringnya aku membuat para pendengarku tidur.

Maka, hari ini aku masih disini. Tak punya penghasilan tetap. Menambah angka pengangguran terbuka negaraku tercinta dan beban hidup keluarga. Tapi apa rezeki dari Allah terhenti? Bahkan saat aku berbuat dosa pun Dia masih memberi kekuatan pada jantungku untuk berdetak. Aku hanya berharap diberi keajegan keyakinan seperti ini. Pandangan hidupku tentang dunia, rezeki, uang, pekerjaan, semuanya. Karena itu adalah rezeki terbesar yang pernah Allah berikan.

Oh ya, aku tidak sedang meratapi nasib atau desperate dengan masa depan. Aku hanya sedang menjalin lurus benang kusut dalam benakku yang memintal semenjak aku kecil.